Sayonara di Jejak Komplikasi Lahir Batin

- Jurnalis

Jumat, 6 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Abrari Alzael, Budayawan & Jurnalis Senior

***

“Kertas tii Mama Reti. Mama galo zeemama molo ja’ogalo mata mae rita ee Mama. Mama jao galo matamae woe rita ne’e gae ngao eemolo Mama.”

(Surat buat Mama Reti. Mama aku pergi dulu. Mama relakan aku pergi. Jangan menangis ya Mama. Mama tidak perlu menangis dan mencari atau merindukanku. Selamat tinggal Mama).

Risalah itu ditulis seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), akhir Januari lalu. Siswa berusia 10 tahun itu, YBS (inisial), ditengarai bunuh diri dengan tubuh tergantung pada seutas tali yang menjura ke pohon cengkeh, tak jauh dari rumahnya.

Aksi ini dipicu oleh permintaan untuk membeli sebuah buku dan pulpen, tidak atau belum dikabulkan orangtuanya. Pada pendek pikir yang melingkari kepalanya, siswa kelas IV SD itu pun memilih opsi lain, mengakhiri hidupnya.

Membaca berita itu, terenyuh bukan saja karena peristiwanya. Tetapi rubaiat hidup yang dialami, penuh haru. Ayahnya meninggal saat anak itu masih berada di dalam kandungan.

Ketika lahir, diasuh neneknya yang sudah sepuh, 80 tahun. Ibunya, tinggal di desa tetangga karena harus mengurusi empat anak lainnya.

Baca juga :  Megathrust: Alarm Alam bagi Manusia, Tinjauan Singkat dari Filsafat Alam

Keterenyuhan lainnya, peristiwa ini terjadi di negeri tercinta dimana kuasa lebih mengingat makanan bergizi gratis dibanding buku, pulpen dan penggaris.

Tragedi memilukan itu adalah tamparan bagi orangtua, bagi kuasa. Pola asuh itu di dalam kehidupan keluarga menjadi sangat urgen.

Anak butuh model pembelajaran untuk dimengerti supaya anak tidak berguru ke tempat lain. Keluarga adalah madrasatul ula di mana pelajaran pertama dan utama, dari titik itu dimulai.

Anak punya imajinasi dari stimulus yang disaksikannya. Di permainan, yang tersembul dari layar ponsel, kematian bisa dipahami anak-anak sebagai permainan.

Adegan tabrakan di dalam game yang dimainkan anak-anak melalui ponsel atau play station, kematian sebentuk candaan. Sebab kematian di game hanya beberapa detik kemudian hidup lagi, tabrakan atau perang lagi.

Karena itu, apabila terdapat adegan anak yang mentahbiskan dirinya sebagai pemeran dalam game dan menirunya, maka bisa dipastikan anak berada posisi yang salah dalam guru atau model.

Tetapi tafsir psiko-linguistik dan frasa yang dibangun anak dalam surat sebelum akhirnya bunuh diri, mengisyaratkan hidup di keluarga yang serba kekurangan.

Baca juga :  Ternyata Semudah Itu Lho Bertani Semi Organik

Ia yatim dan dititip kepada neneknya karena si ibu masih memiliki tugas untuk merawat keempat anak lainnya. Bisa dibayangkan betapa pontang-pantingnya seorang ibu yang hidup serba kekurangan.

Kebutuhan anak itu sederhana saja, ingin menulis pada sebuah buku, agar tidak tertinggal dalam pelajaran.

Lebih dari itu, diksi yang dibangun memberi isyarat bahwa anak itu memiliki potensi untuk menulis yang pantas diseratkannya.

Ada makna yang tertulis, ada arti yang tersurat, dan ada pikiran yang tersirat. Sepintas, bunuh diri yang dilakukan adalah tindakan untuk meringankan beban orangtua yang dilihatnya sengkarut.

Walaupun, bunuh diri dengan alasan apapun, tidak pernah dibenarkan. Masalahnya, tragedi ini bukan soal benar atau salah, tetapi ada beban, emosi, dan konflik batin yang tak terkatakan.

Peristiwa kemanusiaan sudah berlalu. Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf menyadari ada data yang tak terserap secara utuh dan karena itu pendampingan terhadap warga tak mampu, belum menyeluruh.

Negara belum teraliri informasi bahwa di titik terjauh dari Gus Ipul berkantor, ada orangtua yang tak sanggup membelikan buku dan pulpen untuk anaknya, dan lahirlah kisah pilu itu.

Baca juga :  Metamorfosa Kata

Ngada, tidak mengada-ada. Ia fakta, nyata, menjadi berita, menjadi derita. Maka soal data, tidak hanya tersaji di atas meja, tetapi dari mana inputing nama dan alamat diterima.

Cerita lainnya, juga di NTT, Kris, warga Belu tahun lalu, dikepung lapar dan terjerat kemiskinan. Ia mencoba bunuh diri dengan menusuk perutnya hingga robek dan terluka parah.

Ia tak sanggup lagi membeli beras untuk dimasak. Ia terselamatkan warga meski ada usus yang terburai di robekan perut itu. Ada dua peristiwa dengan fatsun yang sama ; miskin.

Data, dibutuhkan tidak saja dari desa, tetapi dari rumah yang benar-benar menderita, sebagai warga bangsa. Kuasa perlu roscek data agar tidak hanya diinput dari petinggi desa.

Dari data itulah kebijakan dibuat, keputusan dirajut. Istana perlu dibantu agar tidak saja mendengar yang baik-baik saja. Raja perlu diingatkan agar bisa membedakan antara ketenangan, kesenangan, kekenyangan, kewenangan dan kesewenang-wenangan. (*)

Berita Terkait

Negeri yang Menggenggam Petir
Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak
Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis
Mutasi Membantah Matahari Kembar
Meneguhkan Arah Baru NU Sumenep: Dari Khidmah Kultural Menuju Kemandirian Sosial
Metamorfosa Kata
Pemikiran Filsafat Islam Modern Tentang Self Direction untuk Menjawab Tantangan Modernitas
Valen, Media, dan Atribusi

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 01:15 WIB

Sayonara di Jejak Komplikasi Lahir Batin

Jumat, 30 Januari 2026 - 03:03 WIB

Negeri yang Menggenggam Petir

Jumat, 23 Januari 2026 - 02:15 WIB

Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak

Jumat, 16 Januari 2026 - 05:51 WIB

Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis

Kamis, 15 Januari 2026 - 03:17 WIB

Mutasi Membantah Matahari Kembar

Berita Terbaru

Opini

Sayonara di Jejak Komplikasi Lahir Batin

Jumat, 6 Feb 2026 - 01:15 WIB