Ayam Jantan dan Safari Rakyat di Ujung Negeri

- Jurnalis

Rabu, 11 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Momen Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin berbincang dengan Ketua PW GP Ansor Jatim H. Musaffa Safril dan sejumlah kader Ansor di Pulau Gili Iyang beberapa waktu lalu.

Momen Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin berbincang dengan Ketua PW GP Ansor Jatim H. Musaffa Safril dan sejumlah kader Ansor di Pulau Gili Iyang beberapa waktu lalu.

Oleh: Fauzi As, Pengamat Kebijakan Publik

——-

ULISAN ini tidak lahir dari ruang seminar atau deretan footnote jurnal ilmiah. Ia tumbuh dari perenungan, pelan-pelan, seperti luka yang sembuhnya tak pernah diumumkan.

Sudah seminggu saya mencerna cerita-cerita yang keluar dari mulut para pemuda. Bukan tentang konser, bukan pula soal caleg yang gagal move on, tapi tentang seorang jenderal.

Bukan jenderal biasa, tapi seorang pemegang tongkat yang lebih suka menunjuk jalan daripada menunjuk-nunjuk bawahannya.

Ini tentang Mayjen TNI Rudy Saladin, Pangdam V/Brawijaya, sosok yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Bukan karena skandal atau operasi senyap, tapi karena operasi dengar.

Di negeri yang bising oleh pejabat yang senang bicara tapi malas mendengar, ia justru hadir untuk menyimak. Diam-diam, tapi dalam.

Pejabat yang Singgah atau Pemimpin yang Singguh?

Di republik ini, pejabat sering datang seperti cuaca. Kadang panas, kadang mendung, tapi tak pernah betul-betul menetap. Mereka datang, letakkan batu pertama, lalu hilang bersama siaran pers.

Tidak untuk mendengar, apalagi memahami. Sebab bagi mereka, rakyat itu penonton, bukan lawan bicara.

Tapi Rudy Saladin tidak masuk kategori pejabat musiman. Ia bukan datang untuk memoles citra, tapi membawa kopi, waktu, dan bahu.

Di Gili Genting, Gili Iyang, ke ujung pulau Madura bernama Sumenep, ia hadir bukan sebagai Panglima, tapi sebagai manusia yang cukup rendah hati untuk bertanya. “Bagaimana kabar kalian sebenarnya?”

Baca juga :  Dari Timur Tengah ke Ujung Timur Madura, Cengkalan

Ayam Jantan dari Timur Versi Baru, Tanpa Suara Meriam

Madura, pulau yang dikenal dengan tangisan sunyi. Ayah-ayah yang tak mampu beli susu, ibu-ibu jadi penyapu kota.

Tapi siapa sangka, dari ketimpangan itu, lahir dialog yang penuh kemanusiaan, di warung kopi, di pinggir pantai, di pos terpencil.

Ia tidak datang membawa pidato tentang strategi militer. Ia bicara soal narkoba yang menyusup di pulau-pulau. Tentang anak-anak muda yang kehilangan arah, bukan karena malas, tapi karena terlalu sering diabaikan.

Dan di situlah letak kejutannya. seorang jenderal yang justru lebih terdengar dari politisi mana pun. Kalimatnya mungkin sederhana, tapi suaranya mengandung keikhlasan.

“Negeri ini tidak bisa dijaga dengan senjata saja, tapi dengan hati yang sadar dan jiwa yang kuat.”

Lho, ini jenderal atau filsuf? Tapi barangkali, kita memang butuh pemimpin yang bisa menyatukan keduanya. Seperti Sultan Hasanuddin di masa lalu, ayam jantan dari timur yang bukan hanya gagah di medan perang, tapi juga kuat menjaga marwah rakyatnya.

Safari Tanpa Karpet Merah

Di negeri lain, safari berarti rombongan pejabat, foto drone, dan seragam yang disetrika lima lapis. Tapi safari Rudy Saladin tidak punya panggung.

Ia jalan kaki, menyapa, bahkan duduk di tikar usang. Tidak ada karpet merah, hanya pasir pantai dan suara debur ombak.

Baca juga :  PW Ansor Jatim Respons Keras Pergantian Ra Gopong dan Gus Irsyad sebagai Caleg Terpilih DPR RI

Bersama Ketua PW GP Ansor Jatim, H. Musaffa Safril, ia membuktikan bahwa jabatan tinggi tidak membuat telinga tuli. Ia tidak membagi-bagikan brosur, tapi membagikan perhatian. Di dunia politik, itu sudah termasuk bentuk sedekah langka.

Penghargaan yang Menyentuh Langit

Di Masalembu, tiga prajurit mengamankan sabu 43 kg. Biasanya? Dapat piagam dan foto. Tapi Rudy memberi mereka tiket umrah dan ziarah rohani. Bahkan kesempatan dalam pendidikan lanjutan.

Ini bukan cuma penghargaan. Ini upaya menyulap pengabdian jadi masa depan. Ini bukan birokrasi. Ini sebuah contoh peradaban kecil.

Dan di tengah zaman di mana penghargaan sering diberikan karena “kenalan”, Pangdam Rudy membuktikan bahwa ketulusan masih bisa memimpin upacara.

Dialog Tanpa Pidato di Gili Iyang

Di pulau dengan kadar oksigen tertinggi di dunia, ia tidak merasa paling tinggi. Ia pamer empati. Tidak datang selfie, tapi datang berbincang. Tentang tanah, air, dan harga diri.

Karena rakyat tidak butuh pemimpin yang bicara megah, tapi yang sudi duduk dan mendengar keluh pelan.

Safari itu berakhir di Masjid Agung Sumenep. Idul Adha, sholat berjamaah, dan penyembelihan kurban. Tapi ini bukan kurban politik. Pangdam sendiri yang bayar. Sendiri.

Baca juga :  Kartini, Sang Pejuang Kesetaraan Perempuan

“Kalau kita meninggal, kurban ini yang jadi kendaraan kita. Maka saya tidak mau dibayari siapa pun,” Pesan beliau pada temannya.

Dari Pangdam Jadi Pemimpin Umat

Ketua GP Ansor Jatim menyebutnya guru kehidupan. Dan memang, tidak semua jenderal bisa menjadi teladan spiritual.

Tidak semua pemimpin bisa menginjakkan kaki di pasir rakyat tanpa kehilangan kehormatan.

Rudy Saladin menunjukkan bahwa kekuatan tak selalu berbicara lewat pangkat. Kadang kekuatan justru muncul dari kesediaan untuk diam dan mendengar.

Ia tidak membangun monumen. Ia membangun kenangan. Dan kenangan itu lebih kuat dari bangunan yang roboh oleh anggaran siluman.

Indonesia Masih Punya Harapan

Kalau semua pemimpin seperti ini, rakyat tidak akan menunggu dengan demo dan banner kritik.

Mereka akan menunggu dengan nasi hangat, dan kelapa muda. Karena yang membuat rakyat bahagia bukan janji, tapi kehadiran.

Dan selama masih ada jenderal yang berjalan tanpa protokol, duduk tanpa kamera, dan berbicara tanpa skrip, Indonesia tidak akan kehilangan arah.

Sebab kadang, pemimpin sejati bukan yang paling keras teriaknya, tapi yang paling ikhlas langkahnya.

Jika ini adalah jejak awal “Ayam Jantan dari Timur” yang baru, maka semoga republik ini cukup bijak untuk membaca, merasa lalu mencerna, bukan hanya sekedar membuat catatan yang hilang di tengah jalan. (*)

Berita Terkait

Basmi Rokok Ilegal: Satir untuk Nur Faizin
Bangkalan Darurat Narkoba
Ketika Penis Patung Lebih Berguna daripada Pena Wartawan
Cyber-Utopianisme dan Realitas Generasi Muda
Saya Bukan Pejuang Kebenaran dan Keadilan. Toh Saya Masih Membela Orang Salah
Pilih: Rp 15 Juta Menjual Kejujuran? Atau Rp 100 Juta Hanya untuk Cari Data?
Kenaikan Harga Cukai Rokok Harus Ditinjau Ulang
Dari Timur Tengah ke Ujung Timur Madura, Cengkalan

Berita Terkait

Jumat, 22 Agustus 2025 - 14:05 WIB

Basmi Rokok Ilegal: Satir untuk Nur Faizin

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 15:12 WIB

Bangkalan Darurat Narkoba

Rabu, 30 Juli 2025 - 22:51 WIB

Ketika Penis Patung Lebih Berguna daripada Pena Wartawan

Senin, 28 Juli 2025 - 08:35 WIB

Cyber-Utopianisme dan Realitas Generasi Muda

Minggu, 27 Juli 2025 - 22:46 WIB

Saya Bukan Pejuang Kebenaran dan Keadilan. Toh Saya Masih Membela Orang Salah

Berita Terbaru