SURABAYA || KLIKMADURA – Ancaman kerusakan wilayah pesisir Jawa Timur membutuhkan penanganan serius dan kolaborasi lintas sektor. Mulai dari abrasi pantai, degradasi ekosistem mangrove, pencemaran perairan, hingga konflik pemanfaatan ruang laut menjadi persoalan yang harus segera diatasi secara terpadu.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pelantikan dan pendidikan serta pelatihan pengurus Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir Indonesia (HAPPI) Cabang Jawa Timur periode 2026–2031 di Hotel Dafam Pacific Caesar, Surabaya, Selasa (3/11/2026).
Dalam pelantikan tersebut, Prof. Dr. Zainul Hidayah, S.Pi., M.App.Sc., yang merupakan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM), resmi memimpin HAPPI Jawa Timur untuk lima tahun ke depan. Pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua HAPPI Nasional, Dr. Muh. Rasman Manafi, S.P., M.Si.
Kepengurusan baru tersebut melibatkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi, praktisi, serta unsur pemerintah yang memiliki kompetensi di bidang pengelolaan sumber daya laut, wilayah pesisir, dan pulau-pulau kecil.
Melalui kepengurusan baru ini, HAPPI Jawa Timur diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam menjembatani kepentingan pemerintah, kalangan akademisi, praktisi, dan masyarakat.
“Pengelolaan wilayah pesisir tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang menghubungkan hasil kajian ilmiah, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan masyarakat agar pemanfaatan sumber daya pesisir tetap berkelanjutan,” demikian pesan utama yang diusung dalam penguatan peran HAPPI Jawa Timur.
Persoalan Pesisir Butuh Penanganan Terpadu
Sejumlah narasumber dalam kegiatan tersebut turut mengulas kompleksitas persoalan pengelolaan pesisir Jawa Timur. Prof. Daniel M. Rosyid dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memaparkan agenda strategis kepesisiran Jawa Timur periode 2026–2031.
Dalam paparannya, ia menyoroti persoalan abrasi pantai, kerusakan ekosistem mangrove, pencemaran lingkungan, konflik pemanfaatan ruang laut, hingga kerentanan kehidupan masyarakat nelayan.
HAPPI dinilai memiliki posisi penting sebagai penghubung antara hasil penelitian, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Ketua HAPPI Nasional Dr. Muh. Rasman Manafi melalui materi bertajuk Bekerja Bersama untuk Pesisir Berkelanjutan menekankan pentingnya pendekatan pengelolaan pesisir secara terpadu.
Menurut materi yang disampaikan, pengembangan sektor perikanan, hilirisasi produk, pemanfaatan ruang laut, konservasi sumber daya, serta pengurangan pencemaran harus ditempatkan dalam satu kerangka pembangunan yang saling mendukung.
Pengelolaan pesisir juga tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi. Aspek kelestarian lingkungan serta kesejahteraan masyarakat harus menjadi bagian penting dari setiap kebijakan pembangunan.
Dorong Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah
Persoalan kolaborasi juga menjadi perhatian Prof. Andi Kurniawan dari Universitas Brawijaya. Dia mengulas pentingnya penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam pengelolaan wilayah pesisir.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar hasil penelitian, inovasi teknologi, dan pengembangan keilmuan dapat dimanfaatkan secara nyata dalam penyusunan kebijakan maupun pelaksanaan program pembangunan.
Di sisi lain, Prof. Agus Subianto dari Universitas Hang Tuah menyoroti pentingnya transformasi kebijakan tata kelola kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil. Persoalan koordinasi lintas sektor, fragmentasi kewenangan, serta penguatan kelembagaan menjadi tantangan yang harus mendapat perhatian.
Dengan dukungan berbagai disiplin keilmuan, HAPPI Jawa Timur diharapkan mampu memperkuat kontribusinya melalui penelitian bersama, pengembangan inovasi, peningkatan kapasitas masyarakat, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis bukti ilmiah.
Perkuat Peran Akademisi dan Komunikasi Publik
Kepengurusan HAPPI Jawa Timur juga diperkuat sejumlah akademisi Universitas Trunojoyo Madura, khususnya dari Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Pertanian serta Program Magister dan Doktor Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) Program Pascasarjana UTM.
Keterlibatan akademisi lintas disiplin tersebut diharapkan memperkuat kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Terutama dalam menjawab persoalan lingkungan, ekonomi, sosial, dan kelembagaan masyarakat pesisir.
Tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, HAPPI Jawa Timur juga mendorong penguatan komunikasi publik melalui gerakan HAPPI Jatim Bersuara.
Gerakan yang diinisiasi Divisi Humas dan Publikasi di bawah koordinasi Dr. Teti Sugiarti, S.P., M.Si., tersebut mengajak seluruh pengurus memanfaatkan jejaring media sosial pribadi maupun institusi untuk menyebarluaskan informasi kegiatan, hasil penelitian, serta praktik baik pengelolaan wilayah pesisir.
Mengusung semangat “Satu HAPPI, Banyak Cerita, Suarakan Pesisir Kita!”, gerakan tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan informasi sekaligus membangun kepedulian masyarakat terhadap keberlanjutan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Dengan kepengurusan baru periode 2026–2031, HAPPI Jawa Timur diharapkan tidak sekadar menjadi wadah berhimpun para ahli, tetapi juga tampil sebagai mitra strategis dalam mendorong tata kelola pesisir yang berkelanjutan di Jawa Timur. (nda)














