UTM Dampingi Warga Lestarikan Tari Topeng Patenteng, Ritual Sakral Meminta Hujan di Bangkalan

- Jurnalis

Sabtu, 10 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah pemeran topeng bersiap sebelum penampilan. (MUHARI AS / KLIKMADURA)

Sejumlah pemeran topeng bersiap sebelum penampilan. (MUHARI AS / KLIKMADURA)

BANGKALAN || KLIKMADURA – Di tengah ancaman kekeringan saat musim kemarau, masyarakat Desa Patenteng, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, masih menjaga tradisi leluhur melalui Tari Topeng Patenteng.

Kesenian tradisional yang dahulu menjadi bagian dari ritual meminta hujan kepada Tuhan tersebut kini mendapat pendampingan dari dosen dan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) agar tidak tergerus zaman.

Pendampingan itu dilaksanakan melalui program pengabdian kepada masyarakat selama satu semester atau enam bulan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya merawat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sekaligus menghidupkan kembali kesenian lokal yang mulai ditinggalkan generasi muda.

Bagi masyarakat setempat, Tari Topeng Patenteng bukan sekadar pertunjukan seni. Di balik gerakan para penari dan iringan musik tradisional, tersimpan nilai sejarah, spiritualitas, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Munir, salah satu pihak yang terlibat dalam pendampingan, menjelaskan bahwa Tari Topeng Patenteng memiliki karakter dan struktur gerakan yang berbeda pada setiap tokohnya. Tarian tersebut melibatkan lima penari dengan karakter yang telah ditentukan.

“Jadi ada Panji Lakek (laki-laki) dan Panji Binek (perempuan), butho, dan sepasang punakawan. Semuanya itu memiliki struktur tarian masing-masing. Itu yang saat ini sedang kami jaga agar tarian ini memiliki karakter dan tidak asal menari,” ucapnya, Jumat (9/10/2026).

Selain memiliki karakter penari yang khas, Tari Topeng Patenteng diiringi musik tradisional Bangkalan yang dikenal sebagai musik dhuk-dhuk. Iringan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun suasana pertunjukan sekaligus mempertahankan identitas kesenian setempat.

Baca juga :  Ratusan Nelayan Kembali Aksi di Tengah Laut, Desak PT KEI Angkat Kaki dari Perairan Kangean

Berakar pada Ritual Meminta Hujan

Tari Topeng Patenteng memiliki hubungan erat dengan tradisi masyarakat dalam menghadapi musim kemarau. Pada masa lalu, tarian ini digelar sebagai bagian dari ritual memohon hujan kepada Tuhan ketika sumber air mulai berkurang.

Munir menuturkan, pengalaman dalam dua kali pagelaran membuatnya semakin merasakan kuatnya hubungan masyarakat dengan tradisi tersebut. Ia menyebut kedua pagelaran itu berlangsung bersamaan dengan turunnya hujan deras.

“Kami dua kali melakukan pagelaran Topeng Patenteng selalu hujan deras. Mungkin orang yang menciptakan dulu bertirakat kepada Allah meminta hujan sehingga munajatnya dikabulkan,” tambahnya.

Bagi masyarakat yang mewarisi tradisi ini, ritual tersebut bukan semata-mata tentang pertunjukan tari, melainkan juga bentuk ikhtiar spiritual dan ungkapan harapan agar masyarakat memperoleh kecukupan air.

Sejarawan Hidrochin Sabarudin menjelaskan, pada zaman dahulu Tari Topeng Patenteng dipentaskan di tepian sumber mata air ketika musim kemarau. Prosesi ritualnya juga melibatkan pengambilan air dari dua sumber yang kemudian dipertemukan.

“Jadi zaman dahulu itu dalam Tari Topeng Patenteng tidak hanya diiringi musik dhuk-dhuk, tetapi juga ada prosesi pengambilan air dari dua sumber dan dikawinkan. Harapannya agar air tetap banyak dan tidak mengering saat kemarau,” jelasnya.

Menurut Hidrochin, tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat memaknai sumber air sebagai bagian penting dari keberlangsungan kehidupan. Ritual yang diwariskan para leluhur itu sekaligus merekam hubungan antara kebudayaan, lingkungan, dan keyakinan masyarakat.

Lebih dari itu, Tari Topeng Patenteng juga disebut memiliki fungsi sebagai media syiar Islam. Hidrochin menyampaikan bahwa Pangeran Arya Kusuma yang berasal dari Sampang turut memanfaatkan kesenian tersebut sebagai sarana penyebaran ajaran Islam.

Baca juga :  Tindak Lanjuti Dugaan Penyimpangan Kredit, Bank Jatim Gandeng Auditor dan Kepolisian

UTM Dorong Regenerasi dan Pelestarian Budaya

Ketua Pelaksana Program Inovasi Seni Nusantara BIMA Kemendiktisaintek 2026, Parrisca Indra Perdana, mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam menjaga Tari Topeng Patenteng.

Menurutnya, pelestarian kesenian tradisional tidak cukup hanya dilakukan melalui pagelaran, tetapi juga harus disertai upaya mengenalkan sejarah dan makna di balik setiap unsur pertunjukan.

“Tari Patenteng ini tidak hanya sebagai ritual tarian di desa saja, tetapi berdampak ke depannya semakin dikenal, semakin lestari, tidak berhenti di penampilan hari ini saja, tetapi bisa mencoba untuk belajar sejarahnya, ceritanya, topengnya, kenapa ritualnya seperti itu. Sehingga orang-orang sekitar bisa mengerti sekaligus ikut ambil bagian dalam menjaga budaya lokal,” ungkap Parrisca, akademisi sekaligus pembina UKM Seni Nanggala.

Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah dan filosofi kesenian menjadi modal penting untuk memastikan tradisi tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal Tari Topeng Patenteng sebagai tontonan, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Salah satu warga Desa Patenteng, Muhammad Hosen, mengatakan Tari Topeng Patenteng hingga kini masih dipentaskan oleh masyarakat setempat. Menurut dia, pertunjukan tersebut biasanya digelar sebanyak tiga kali pada akhir musim kemarau.

Hosen juga menyimpan topeng asli yang diwariskan secara turun-temurun dari neneknya. Selain menjadi penjaga benda peninggalan leluhur, ia pernah berperan sebagai penabuh musik dhuk-dhuk yang mengiringi pertunjukan tersebut.

Baca juga :  Terpilih secara Aklamasi, Mat Saleh Si Anak Pulau Nakhodai IKA FAPERTA UTM Periode 2024-2028

Keberadaan topeng asli dan pengalaman warga yang masih mengenal tradisi ini menjadi bagian penting dalam upaya mendokumentasikan sekaligus meneruskan pengetahuan budaya kepada generasi berikutnya.

Dukungan terhadap pelestarian kesenian itu juga datang dari Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura, Bangun Sentosa. Dalam kegiatan tersebut, ia hadir dan memberikan dukungan berupa perlengkapan Tari Topeng Patenteng, termasuk topeng dan pakaian tari.

Bangun berharap program pengabdian kepada masyarakat tersebut dapat memotivasi warga untuk terus merawat kesenian peninggalan leluhur. Menurutnya, pelestarian budaya merupakan bentuk kecintaan terhadap daerah dan identitas masyarakat tempat tradisi itu tumbuh.

“Pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan mampu memberikan motivasi agar masyarakat Desa Patenteng terus menjaga nilai kebudayaan dan kesenian yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya. Hal ini bagian dari menjaga kecintaan terhadap tanah di mana kita dilahirkan,” ungkapnya.

Ia meyakini setiap kesenian dan kebudayaan yang diwariskan para leluhur mengandung nilai-nilai yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pendampingan selama enam bulan, UTM bersama masyarakat diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan Tari Topeng Patenteng, mulai dari pemahaman sejarah, penguasaan gerak, pelestarian topeng, hingga regenerasi pelaku seni.

Upaya tersebut menjadi penting agar kesenian tradisional Bangkalan ini tidak sekadar bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai identitas budaya masyarakat Desa Patenteng dan dikenal oleh generasi mendatang. (mhr/nda)

Berita Terkait

Akademisi UTM Sebut Usulan Parliamentary Threshold 6 Persen Punya Rasionalitas Kelembagaan
Hari Kesaktian Pancasila, PLN Validasi Inovasi OMP untuk Percepat Penanganan Padam di Bangkalan
Imigrasi Pamekasan Edukasi Mahasiswa Asing UTM, Tekankan Larangan Bekerja dengan Izin Tinggal Pendidikan
Perkuat Pengawasan Orang Asing Lintas Sektor, Kantor Imigrasi Pamekasan Gelar Rapat Bersama Timpora Bangkalan
Grand Opening FISIBBOX UTM, Dorong Kewirausahaan dan Ekonomi Kampus
Imigrasi Pamekasan Gencarkan Edukasi Keimigrasian di Bangkalan, Warga Antusias Cari Informasi Paspor dan TPPO
UKM PSHT UTM Gelar Pelatihan Bela Diri dan Bantuan Hidup Dasar, Bekali Mahasiswa Hadapi Situasi Darurat
Madura Akhirnya Punya Fakultas Kedokteran, UTM Kantongi Izin Resmi dari Pemerintah

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 00:56 WIB

UTM Dampingi Warga Lestarikan Tari Topeng Patenteng, Ritual Sakral Meminta Hujan di Bangkalan

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Akademisi UTM Sebut Usulan Parliamentary Threshold 6 Persen Punya Rasionalitas Kelembagaan

Selasa, 22 September 2026 - 06:50 WIB

Hari Kesaktian Pancasila, PLN Validasi Inovasi OMP untuk Percepat Penanganan Padam di Bangkalan

Rabu, 16 September 2026 - 05:51 WIB

Imigrasi Pamekasan Edukasi Mahasiswa Asing UTM, Tekankan Larangan Bekerja dengan Izin Tinggal Pendidikan

Jumat, 4 September 2026 - 00:34 WIB

Perkuat Pengawasan Orang Asing Lintas Sektor, Kantor Imigrasi Pamekasan Gelar Rapat Bersama Timpora Bangkalan

Berita Terbaru