SAMPANG || KLIKMADURA – Harga garam di Kabupaten Sampang bergerak cukup lebar berdasarkan kualitas hasil panen. Saat ini, harga garam di tingkat petani berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp120 ribu per sak.
Selisih harga mencapai sekitar Rp60 ribu antara garam kualitas terendah K3 dan kualitas tertinggi K1. Selain mutu, tingkat kebersihan serta posisi garam saat transaksi turut menentukan harga jual.
Untuk kualitas K3, harga garam di tingkat petani berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per sak. Sementara kualitas K2 dihargai sekitar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per sak.
Adapun garam kualitas K1 menjadi yang paling tinggi. Harganya berada di rentang Rp90 ribu hingga Rp120 ribu per sak.
Berikut rincian harga garam di Kabupaten Sampang:
K3: Rp60 ribu–Rp65 ribu per sak
K2: Rp70 ribu–Rp80 ribu per sak
K1: Rp90 ribu–Rp120 ribu per sak
Petani garam Sampang, Hari, mengatakan kualitas menjadi salah satu penentu utama harga garam. Semakin bersih hasil produksi, semakin tinggi pula nilai jualnya.
“Harga sesuai dengan kualitas dan seberapa bersih garamnya,” kata Hari, Senin (5/10/2026).
Selain kualitas, harga juga dipengaruhi mekanisme transaksi. Posisi garam ketika dijual menjadi salah satu pertimbangan, apakah masih berada di area tambak atau sudah dinaikkan ke atas truk.
Menurut Hari, pola penjualan di tingkat petani cukup beragam. Sebagian petani menjual hasil panen ketika pengepul atau tengkulak datang mencari garam.
“Untuk garam biasanya dijual langsung jika ada pengepul atau tengkulak yang mencari. Ada juga yang dijual ke orang tertentu karena sistem kerja sama dengan tengkulak,” ujarnya.
Hubungan antara petani dan tengkulak bahkan dapat terjalin sejak awal proses produksi. Dalam pola tersebut, tengkulak memberikan pinjaman berupa terpal yang digunakan untuk kebutuhan tambak. Sebagai bagian dari kerja sama, hasil panen kemudian dijual kepada tengkulak pemberi pinjaman.
Di tengah perbedaan harga berdasarkan kualitas, petani masih menghadapi persoalan lain, yakni serapan garam yang dinilai belum maksimal.
Petani garam lainnya, Wasik, mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih menyimpan hasil panen sembari menunggu harga yang dianggap lebih sesuai.
“Serapan garam masih minim, kebanyakan petani memilih menimbun karena harga belum pas,” kata Wasik.
Menurutnya, kenaikan harga saja belum cukup untuk memperbaiki kondisi petani jika tidak diikuti kestabilan harga. Fluktuasi harga dapat menghambat perputaran modal yang dibutuhkan petani untuk kembali memulai produksi.
“Kami harap harga garam bisa naik dan terus stabil karena dengan begini modal akan mandek,” tegasnya. (ali/nda)














