Krisis Kejujuran di Dunia Akademisi Indonesia

- Jurnalis

Senin, 22 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nadia Yasmin Dini, Mahasiswi Universitas Airlangga

__________

DUNIA akademik sedang tidak baik-baik saja saat ini. Kita bisa melihat  jika dalam beberapa tahun terakhir ini, kasus kecurangan akademik di Indonesia telah meningkat secara signifikan, mengancam integritas dan masa depan pendidikan kita.

Kasus kecurangan di dunia akademisi Indonesia semakin diperparah dengan munculnya kabar tentang skandal guru besar atau profesor abal-abal yang menimpa salah satu universitas di Indonesia.

Diketahui, skandal ini pertama kali dimuat media tempo beberapa waktu lalu. Hingga saat ini, skandal ini masih terus menjadi buah bibir para jajaran civitas akademika maupun masyarakat awam.

Seperti yang kita tahu, salah satu syarat utama agar bisa mendapatkan gelar guru besar atau profesor adalah harus menghasilkan karya ilmiah yang kemudian dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi.

Jika sudah memenuhi persyaratan tersebut dan beberapa persyaratan lainnya, maka seseorang baru bisa menjadi guru besar atau profesor yang sesungguhnya. Kata “sesungguhnya”disini merujuk pada seorang yang mendapatkan gelar guru besar atau profesor dengan cara yang sesuai dengan aturan. Hal ini yang kemudian menjadi pembeda antara guru besar yang sesungguhnya dengan Guru besar abal-abal.

Disebut sebagai guru besar atau profesor abal-abal karena dalam mencapai gelar tersebut, mereka menggunakan cara yang tidak sesuai aturan atau melanggar etika akademik. Mereka menggunakan jalur ilegal atau jalur haram. Melalui jalur haram ini mereka mempublikasikan tulisan di jurnal predator.

Baca juga :  Basmi Rokok Ilegal: Satir untuk Nur Faizin

Jurnal predator sendiri adalah sebutan untuk jurnal yang membajak jurnal asli. Bahkan penerbitannya tidak didapati proses peninjauan ilmiah atas naskah yang bisa dipertanggungjawabkan atau kualitasnya diragukan (tempo.co, 2024).

Mendengar berita ini, banyak publik yang kemudian merasa kecewa. Karena selama ini, seorang guru yang dikenal sebagai teladan baik dan senantiasa mengajarkan para muridnya untuk  berperilaku jujur.

Sekarang, malah mereka sendiri yang menjadi pelaku ketidakjujuran dalam dunia pendidikan. Hal ini nantinya akan memicu pertanyaan publik mengenai nilai karakter kejujuran yang seharusnya ada di dalam dunia pendidikan.

Kasus ini seakan menunjukkan jika baik guru besar maupun mahasiswa sebenarnya sama-sama penyuka jalan pintas. Bedanya, jika mayoritas mahasiswa memakai jalan pintas menyontek dengan tujuan untuk mendapatkan nilai memuaskan tanpa harus belajar.

Maka, guru besar memakai jalan pintas dengan cara mempublikasikan karya ilmiah di jurnal predator untuk mendapatkan gelar pengakuan tanpa harus melewati tahap-tahap sesuai aturan. Kasus ini juga seakan menjadi bukti jika telah terjadi krisis kejujuran di dunia akademis.

Meski tidak semua guru besar atau profesor di Indonesia seperti itu dan skandal ini hanya ulah dari beberapa oknum,  tetap saja skandal ini   akan berdampak pada tercorengnya nilai kejujuran dunia pendidikan di Indonesia.

Jika nilai kejujuran pendidikan di Indonesia tercoreng, maka hal itu juga akan menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan yang ada di Indonesia nantinya.

Baca juga :  Kartu Kesempatan di Tahun 2025: Waktunya Beraksi

Lagi dan lagi, meski tak semua universitas diisi oleh Guru besar abal-abal, tetap saja publik nantinya akan merasa was-was. Bagaimana tidak, jika para pendidik nya saja banyak diisi oleh orang-orang yang tidak jujur, maka kemungkinan besar nantinya akan menghasilkan peserta didik yang  tidak jujur pula. Hingga pada akhirnya, banyak anak bangsa yang nantinya lebih memilih sekolah di luar negeri.

Selain itu, skandal seperti ini juga akan ikut mempengaruhi perilaku dan cara berpikir mahasiswa nantinya. Berikut adalah beberapa kemungkinan efek yang bisa saja terjadi jika skandal seperti ini masih terus terjadi di masa depan:

Pertama, kemungkinan mahasiswa nantinya akan meniru perilaku tidak terpuji tersebut. Karena seorang guru besar adalah contoh sekaligus teladan bagi  para mahasiswa.

Kedua, kemungkinan skandal ini juga akan membuat para mahasiswa bersifat pragmatis.  Seseorang yang bersifat pragmatis cenderung lebih fokus pada hasil nyata dan solusi yang praktis daripada teori atau prinsip yang abstrak. Sifat pragmatis disini juga dapat diartikan sebagai sifat seseorang yang cenderung berpikir praktis atau instan.

Misalnya, seorang mahasiswa yang lebih memilih untuk joki skripsi dibandingkan mengerjakan skripsi sendiri. Atau seorang mahasiswa yang memilih untuk menyontek kepada temannya ketika ujian dibandingkan harus belajar.

Baca juga :  Korkab BSPS Hilang?

Ada pula contoh lain, seorang mahasiswa yang lebih memilih untuk menggunakan bantuan Chat GPT untuk menjawab pertanyaan ketika presentasi dibandingkan mempelajari dan menguasai materi presentasi.

Ketiga, skandal ini juga kemungkinan akan membuat para mahasiswa  bersikap oportunis. Secara bahasa, oportunis artinya orang yang menganut paham oportunisme.

Dalam KBBI disebutkan bahwa paham tersebut membuat orang semata-mata ingin mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri dari segala kesempatan yang ada.

Orang yang oportunis biasanya tidak berpegang teguh pada prinsip tertentu. Asalkan menguntungkan dirinya sendiri, maka ia rela melakukan apa pun untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan (kumparan, 2023).

Misalnya, seorang mahasiswa yang memilih untuk joki tugas. Meski dia tahu perbuatannya salah dan telah melanggar etika akademik, tetap saja dia melakukan tindakan tersebut.

Sebab, dia hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri. Di mana jika dia menggunakan jasa joki tugas, dia bisa mendapatkan nilai yang bagus tanpa harus susah-susah  untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

Maka dari itu, masalah ini tidak bisa kita anggap sepele dan perlu respons yang tegas dari pemerintah. Misalnya, dengan memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku kecurangan.

Pemberian sanksi yang tegas diharapkan dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku. Selain itu, supaya kejadian ini tidak kembali terulang di masa depan yang nantinya akan membuat nilai kejujuran dunia akademik Indonesia menjadi tercoreng. (*)

Berita Terkait

Satu Suara Seribu Suaka
Sayonara di Jejak Komplikasi Lahir Batin
Negeri yang Menggenggam Petir
Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak
Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis
Mutasi Membantah Matahari Kembar
Meneguhkan Arah Baru NU Sumenep: Dari Khidmah Kultural Menuju Kemandirian Sosial
Metamorfosa Kata

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 01:43 WIB

Satu Suara Seribu Suaka

Jumat, 6 Februari 2026 - 01:15 WIB

Sayonara di Jejak Komplikasi Lahir Batin

Jumat, 30 Januari 2026 - 03:03 WIB

Negeri yang Menggenggam Petir

Jumat, 23 Januari 2026 - 02:15 WIB

Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak

Jumat, 16 Januari 2026 - 05:51 WIB

Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis

Berita Terbaru

Opini

Satu Suara Seribu Suaka

Jumat, 13 Feb 2026 - 01:43 WIB