Khatamul Anbiya, Tangan Kiri Ali Khamenei, dan Anak-Anak di Surga

- Jurnalis

Rabu, 8 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rahem Ra, Penulis Lepas. Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini, tinggal di Sumenep.

****

SEBULAN terakhir, nama “Khatamul Anbiya” sering muncul di media sosial di tengah hiruk-pikuk serangan AS-Israel ke Iran dan serangan balasan Iran.

Dalam Islam, Khatamul Anbiya menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah nabi dan rasul terakhir di muka bumi. Tidak ada lagi nabi atau rasul setelah beliau.

Lebih jauh, Khatamul Anbiya tidak hanya berarti Nabi Muhammad Saw. sebagai penutup para nabi, tetapi juga mengandung makna bahwa pesan-pesan kenabian harus diwariskan dari generasi ke generasi oleh umat Islam.

Pesan tentang keadilan, kesetaraan, pembebasan manusia dari penjajahan, serta penolakan terhadap superioritas bangsa atas bangsa lain adalah warisan Nabi terakhir yang wajib dijaga oleh setiap muslim.

Di Iran, nama Khatamul Anbiya di antaranya menjelma menjadi Markas Besar Komando Militer Gabungan yang mengoordinasikan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Angkatan Darat reguler (Artesh).

Markas militer yang didirikan pada 1980-an di masa Ayatullah Ruhollah Khomeini—pemimpin Revolusi Islam Iran 1979 dan pemimpin tertinggi Negara Republik Islam Iran yang pertama—ini bertanggung jawab merencanakan, mengawasi, dan mengoordinasikan operasi militer.

Baca juga :  MUI Sampaikan Duka Mendalam Atas Wafatnya Ali Khamanei, Serukan Penghentian Eskalasi Militer

Sekaligus, memainkan peran penting dalam strategi pertahanan Iran. Di masa Ayatullah Ali Khamenei, Markas Besar Khatamul Anbiya terus dimatangkan dan disempurnakan sebagai pusat komando militer Iran.

Tampaknya, hanya Iran satu-satunya negara muslim yang mampu menerjemahkan pesan Khatamul Anbiya menjadi alat pembebasan mutlak: sebuah negara yang bebas dari penindasan, betapapun kuatnya negara yang hendak menindas.

Melalui Markas Besar Khatamul Anbiya, yang sering disampaikan oleh juru bicara Ebrahim Zolfaghari dengan nada mengejek para tiran, Iran menegaskan kepada umat manusia bahwa penindasan dan hegemoni harus dilawan—meski dengan risiko pengorbanan yang tak terperi.

Warisan dari Tangan yang Lumpuh

Ali Khamenei, yang menjadi pemimpin tertinggi Iran sejak 1989 menggantikan Ruhollah Khomeini yang meninggal dunia di tahun yang sama, kehilangan kemampuan menggerakkan tangan kanannya akibat kelumpuhan permanen dari upaya pembunuhan pada 27 Juni 1981. Sebuah bom yang disembunyikan dalam tape recorder meledak di depan Khamenei saat ia memberikan ceramah di Masjid Abu Zar, Teheran.

Sejak saat itu, Khamenei hanya menggunakan tangan kiri untuk menyapa, memimpin, dan menegaskan ucapannya. Namun dengan tangan kanan yang lumpuh, ia tetap memimpin Iran melewati embargo ekonomi berkepanjangan. Ia memastikan tradisi intelektual Iran bertahan, para ilmuwan terus lahir, dan perempuan dididik agar generasi berikutnya tumbuh dengan otak bergizi.

Baca juga :  Perginya Jurnalis Bermazhab Masdawian

Bahkan setelah wafatnya Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 akibat serangan udara gabungan AS-Israel di tengah proses perundingan, Iran tetap bertahan dan melawan.

Hal ini tak lepas dari dedikasi Khamenei yang terus memimpin, mengelola, dan menyempurnakan Markas Besar Khatamul Anbiya, yang kini menjadi otak perlawanan Iran terhadap tirani AS-Israel.

Dengan rudal dan drone yang terus-menerus menghantam pangkalan militer AS di Timur Tengah, Iran seolah menyampaikan pesan kepada negara-negara Teluk: penyerahan diri kepada perampok harus diakhiri, karena perlindungan dari perampok hanyalah utopia yang pada akhirnya akan berubah menjadi perampokan.

Anak-Anak yang Gugur di Minab

Serangan gabungan AS-Israel di tengah perundingan jelas tak bisa dibenarkan. Serangan itu ilegal dan mencederai kedaulatan Iran, bertentangan dengan Piagam PBB yang melarang penggunaan kekuatan militer terhadap integritas teritorial negara lain.

Lebih tragis lagi, serangan itu tidak hanya menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah pimpinan militer, tetapi juga merenggut nyawa anak-anak.

Baca juga :  Ketika Dunia Tengah Porak-Poranda, Kita Di Mana?

Seandainya Ali Khamenei selamat dalam serangan itu, pastilah ia menjadi manusia paling berduka di muka bumi. Bukan semata karena negaranya diguncang serangan AS-Israel, atau karena ditinggalkan sendirian oleh negara-negara tetangga menghadapi tirani. Tetapi karena hatinya hancur menyaksikan lebih dari 200 anak perempuan, siswi sekolah dasar di Minab, Hormozgan, tewas dengan kejam.

Bayangkan, ratusan jiwa mungil yang sedang menimba ilmu, penuh harapan dan masa depan, dipaksa pergi meninggalkan hidupnya oleh rudal dan bom AS-Israel. Kekejaman yang tak terlukiskan. Sulit membayangkan bagaimana anak-anak itu meregang nyawa—apakah mereka menangis, apakah mereka merasakan sakit luar biasa sebelum akhirnya meninggal dunia?

Ironisnya, tragedi ini terjadi saat meja perundingan AS dan Iran masih terbuka. Lebih ironis lagi, dunia yang mengaku beradab—melalui PBB—tak menunjukkan simpati, seolah buta dan tuli terhadap penderitaan anak-anak tak berdosa. Sebuah pengkhianatan terhadap nurani, sebuah luka yang tak akan pernah sembuh dalam sejarah kemanusiaan.

Duka rakyat Iran atas kematian anak-anak itu adalah duka abadi—duka sepanjang masa untuk anak-anak penghuni surga. (*)

Berita Terkait

Urgensi Pemahaman Politik Kaum Muda Sumenep
Fikrah Lingkungan untuk Sumenep Berkelanjutan
Trump, Tuan yang Mahasyahwat
Tuhan Terlipat di Lakon Goro-goro
Jelita Menari, Jelata Merana
Kembalilah Nurani
Cukup Engkau Saja
Sahur Kebijakan Publik

Berita Terkait

Rabu, 8 April 2026 - 10:22 WIB

Khatamul Anbiya, Tangan Kiri Ali Khamenei, dan Anak-Anak di Surga

Selasa, 7 April 2026 - 12:39 WIB

Urgensi Pemahaman Politik Kaum Muda Sumenep

Sabtu, 4 April 2026 - 02:03 WIB

Fikrah Lingkungan untuk Sumenep Berkelanjutan

Jumat, 3 April 2026 - 07:17 WIB

Trump, Tuan yang Mahasyahwat

Jumat, 27 Maret 2026 - 03:01 WIB

Tuhan Terlipat di Lakon Goro-goro

Berita Terbaru

Opini

Urgensi Pemahaman Politik Kaum Muda Sumenep

Selasa, 7 Apr 2026 - 12:39 WIB