AMMAN || KLIKMADURA – Malam di kamp pengungsian itu tidak sekadar dingin. Ia menggigit tulang, merayap perlahan ke sela-sela tenda sederhana yang menjadi rumah bagi ribuan pengungsi Palestina dan Suriah di Yordania. Di tempat itulah, harapan sering kali terasa tipis.
Namun pada akhir Februari lalu, suasana berbeda hadir di Camp Marka. Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI Dunia datang membawa sesuatu yang sederhana, tapi berarti besar. Yakni, kehangatan.
Bukan hanya dalam bentuk 100 unit penghangat ruangan dan ratusan pakaian musim dingin, tetapi juga dalam wujud kepedulian yang jarang mereka rasakan.
Seorang ibu pengungsi tampak memeluk erat jaket tebal yang baru diterimanya. Di sampingnya, anak kecil tersenyum, mencoba sarung tangan yang kebesaran di tangannya.
Mungkin, untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, mereka tidak terlalu takut menghadapi malam. Bagi para relawan, momen itu sulit dilupakan.
Mereka melihat langsung bagaimana satu keluarga harus berbagi ruang sempit, bertahan dengan fasilitas seadanya. Di tengah kondisi seperti itu, benda sederhana seperti heater bisa menjadi penyelamat, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Dua hari berselang, langkah kecil itu berlanjut. Relawan kembali datang, kali ini membawa paket kebersihan seperti sabun, pasta gigi, sampo, hingga kebutuhan khusus perempuan.
Namun yang paling membekas bukanlah isi paket itu. Melainkan tawa anak-anak yang pecah saat diajak bermain.
Di tengah keterbatasan, anak-anak itu tetap menemukan cara untuk tertawa. Mereka berlari, bercanda, dan sejenak melupakan bahwa mereka hidup jauh dari rumah yang sesungguhnya.
Menjelang senja, suasana berubah menjadi hangat. Ratusan paket takjil dibagikan. Para pengungsi dan relawan duduk bersama, berbuka dalam satu lingkaran sederhana.
Tak ada sekat bahasa. Tak ada perbedaan negara. Yang ada hanya rasa kemanusiaan.
“Bantuan ini memang tidak akan menyelesaikan semuanya, tapi kami ingin mereka tahu, mereka tidak sendirian,” ujar Koordinator PPI Dunia, Andika Ibrahim Nasution.
Awal Maret, perjalanan itu berlanjut ke Camp Jaoufah, tempat para pengungsi Suriah bertahan hidup. Di sana, para relawan tidak hanya membagikan bantuan, tetapi juga ikut membersihkan fasilitas sanitasi di masjid dan sekolah.
Tangan-tangan mahasiswa itu kotor oleh lumpur dan debu. Tapi dari sanalah, harapan perlahan dibangun kembali.
Sekitar 100 pengungsi ikut dalam buka puasa bersama yang digelar sederhana. Tak mewah, tapi penuh makna.
Direktur Pergerakan dan Pengabdian Masyarakat PPI Dunia, Zulfikar Dwiputra, menyebut bahwa gerakan ini bukan sekadar soal bantuan.
Ini tentang menjaga agar dunia tetap peduli.
Sebab bagi para pengungsi, yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan rumah—tetapi juga rasa dilupakan.
Ke depan, PPI Dunia bahkan menyiapkan program pemasangan kaki palsu bagi para penyintas konflik. Sebuah langkah kecil untuk membantu mereka kembali berdiri, secara harfiah maupun harapan.
Di tengah segala keterbatasan itu, Ruang Harapan menjadi pengingat sederhana, bahwa kepedulian tidak harus besar untuk berarti. Kadang, ia cukup hadir di waktu yang tepat, di tempat yang paling membutuhkan. (*)














