Saatnya Madura Menatap Energi Baru

- Jurnalis

Senin, 3 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Prengki Wirananda, Pemred Klik Madura.

—-

SUDAH terlalu lama Madura digali. Dari Pulau Pagerungan-Sumenep, Pulau Mandangin-Sampang hingga perut bumi Bangkalan ditusuk besi-besi panjang, menggali minyak dan gas yang katanya akan membawa kesejahteraan.

Namun hingga hari ini, apa yang benar-benar berubah? Jalan-jalan masih banyak yang berlubang, nelayan masih berjuang mentang maut lautan dan desa-desa di pesisir masih sering gelap saat malam. Kita seperti sedang berdiri di atas ladang emas tetapi tetap menggenggam pasir.

Madura tidak kekurangan sumber daya alam. Yang kurang hanyalah keberanian untuk berubah. Sudah saatnya kita berhenti menunggu berkah dari perut bumi dan mulai menengadah.

Hari ini, saatnya menatap matahari, menjemput angin, serta memeluk teknologi baru yang lebih bersih dan berkeadilan. Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) adalah jawabannya.

Menurut penelitian Pusat Studi Energi dan Kelistrikan ITS tahun 2023, sinar matahari yang jatuh di Madura setiap hari mencapai rata-rata 4,5 kWh per meter persegi.

Artinya, halaman sekolah di Sumenep bisa menjadi pembangkit listrik, dan atap pesantren di Pamekasan bisa menjadi sumber cahaya bagi lingkungan sekitar.

Baca juga :  Belajar Terukur dari Mas Ipin

Di pesisir Sapeken, angin berhembus dengan kecepatan 6 hingga 7 meter per detik. Itu kekuatan yang cukup untuk menyalakan turbin angin.

Di Sampang dan Bangkalan, limbah peternakan bisa diolah menjadi biogas yang ramah lingkungan dan menghemat biaya rumah tangga.

Energi itu ada di sekitar kita setiap hari. Ia hadir tanpa harus menggali bumi, tanpa merusak laut, tanpa meninggalkan luka. Tanpa merusak laut tempat nelayan mencari hidup.

Jika potensi ini dikelola secara serius, Madura bisa mandiri energi tanpa menggantungkan diri pada minyak dan gas. Sistem microgrid atau jaringan listrik skala kecil berbasis desa dapat dikelola oleh koperasi dan dimiliki oleh masyarakat.

Bayangkan, listrik yang lahir dari matahari Madura, dinikmati oleh warga Madura, dan dikelola oleh tangan Madura sendiri. Itulah wajah baru kesejahteraan, energi yang tidak hanya menerangi rumah tetapi juga menghidupi kehidupan.

Dalam teori technological transition yang diperkenalkan oleh Frank Geels pada tahun 2002, setiap perubahan besar dalam sistem energi selalu dimulai dari tiga unsur penting, yaitu inovasi teknologi, kebijakan yang berpihak, dan kesadaran sosial.

Baca juga :  8 Kios Pasar Waru Pamekasan Terbakar, Kerugian Tembus Rp 800 Juta

Madura sesungguhnya telah memiliki dua dari tiga unsur itu. Potensi teknologi sudah ada, dan kesadaran sosial perlahan tumbuh di kalangan anak muda.

Mereka mulai sadar bahwa masa depan tidak lagi berada di kilang minyak, tetapi di laboratorium energi surya, di turbin angin, dan di rumah-rumah desa yang ingin mandiri.

Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian pemerintah daerah untuk memberi arah dan kebijakan. Bukan lagi menandatangani izin pengeboran baru, melainkan membangun pusat pelatihan energi terbarukan di setiap kabupaten.

Universitas Trunojoyo Madura, UIN Madura, Poltera, Unija, Uniba, Unira, dan pesantren-pesantren besar di Madura dapat menjadi motor perubahan dengan membuka pelatihan panel surya, turbin angin, dan pengolahan biogas.

Bayangkan desa yang menyalakan listriknya sendiri. Sekolah yang hidup dari tenaga surya. Pesantren yang mandiri energi dari limbahnya sendiri. Itulah potret kemandirian yang sejati, yang lebih mulia daripada sekadar menunggu dana kompensasi dari industri migas.

Baca juga :  Blok Migas South East Madura, Mimpi Nyata Rakyat Sejahtera

EBTKE bukan hanya tentang teknologi. Ia adalah cara berpikir baru. Ia mengajarkan efisiensi, tanggung jawab, dan kemandirian. Energi bersih mengubah cara manusia memandang alam, bukan lagi sebagai objek eksploitasi tetapi sebagai mitra kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.

Pemerintah daerah sudah seharusnya segera menyusun Rencana Induk Energi Bersih Madura. Pulau ini tidak boleh terus menjadi halaman belakang industri migas.

Madura berhak memiliki masa depan sendiri, masa depan yang bersinar tanpa asap, masa depan yang terang karena kerja tangan-tangan anak muda yang mencintai tanahnya.

Karena kesejahteraan sejati bukan berasal dari apa yang diambil dari bumi, melainkan dari apa yang diciptakan oleh manusia yang mencintai buminya.

Madura dengan sinar mataharinya yang hangat, angin lautnya yang tak pernah berhenti, dan semangat warganya yang tak pernah padam, sudah menunggu terlalu lama untuk sejahtera. Maaf. (*)

Berita Terkait

Gus Yahya dan Lompatan Besar Nahdlatul Ulama
Tentang Cinta, Iman, dan Qurban
Urgensi PLTMG Saronggi
PLTG Madura dan Masa Depan yang Lebih Terang
Energi Mineral Langgeng dan Janji Manis Sang Jenderal
15 Tahun Menanti Eksplorasi Gas Saronggi
Laut Madura di Pusaran Denyut Ekonomi Global
Andai Semua Boeya MH. Said Abdullah 

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 01:11 WIB

Gus Yahya dan Lompatan Besar Nahdlatul Ulama

Rabu, 27 Mei 2026 - 02:39 WIB

Tentang Cinta, Iman, dan Qurban

Selasa, 19 Mei 2026 - 02:00 WIB

Urgensi PLTMG Saronggi

Jumat, 8 Mei 2026 - 03:27 WIB

PLTG Madura dan Masa Depan yang Lebih Terang

Kamis, 30 April 2026 - 02:07 WIB

Energi Mineral Langgeng dan Janji Manis Sang Jenderal

Berita Terbaru

Catatan Pena

Gus Yahya dan Lompatan Besar Nahdlatul Ulama

Minggu, 31 Mei 2026 - 01:11 WIB

Opini

Singa yang Bergelang Karet Demokrasi

Jumat, 29 Mei 2026 - 13:37 WIB