Sumur Warga Tambelangan Menghitam dan Berbusa, Limbah SPPG Kembali Disorot

- Jurnalis

Rabu, 12 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sampel air sumur milik warga Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang dengan kondisi menghitam dan berbusa. (KLIKMADURA)

Sampel air sumur milik warga Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang dengan kondisi menghitam dan berbusa. (KLIKMADURA)

SAMPANG || KLIKMADURA – Kondisi air sumur warga di Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, kembali memunculkan persoalan lingkungan. Air yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dilaporkan berubah menjadi hitam dan berbusa setelah keberadaan SPPG Rahmatan Lil Alamiin di wilayah tersebut.

Perubahan kondisi air itu memunculkan dugaan adanya kaitan dengan aktivitas dan pengelolaan limbah dari dapur SPPG. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab pencemaran sebelum dilakukan pemeriksaan lapangan serta pengujian terhadap sampel air sumur dan limbah yang dihasilkan SPPG.

Persoalan pengelolaan limbah SPPG di Tambelangan juga bukan kali pertama menjadi perhatian. Pada April 2026, warga di wilayah yang sama pernah melaporkan dugaan pembuangan limbah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) ke lahan pertanian.

Sekretaris Satgas MBG Sampang, Sudarmanto, saat itu mengatakan pihaknya menerjunkan tim untuk mengecek laporan tersebut. Ia menegaskan, pembuangan limbah dapur ke lahan pertanian bertentangan dengan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan pemerintah.

Baca juga :  Jalan Desa Lepelle Sampang Retak Parah Akibat Longsor

Menurutnya, pengelola dapur MBG atau SPPG wajib membuang limbah pada tempat yang telah ditentukan. Pembuangan limbah secara sembarangan tidak diperbolehkan karena berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.

“Semua tata kelola itu harus sesuai SOP, dan itu wajib dipatuhi oleh pihak SPPG,” kata Sudarmanto.

Limbah yang menjadi persoalan dalam laporan sebelumnya terdiri atas limbah padat dan cair. Setiap dapur MBG juga diwajibkan memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang memadai untuk mengelola sisa produksi sebelum dibuang ke lingkungan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu hal penting yang perlu ditelusuri dalam laporan terbaru mengenai perubahan air sumur warga. Apabila pemeriksaan nantinya menemukan hubungan antara limbah SPPG dan perubahan kualitas air tanah, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut kondisi sumur warga, tetapi juga tata kelola limbah pada sumber kegiatan.

Baca juga :  Dokter Maksimal Buka Praktik di Tiga Tempat, Jika Melanggar SIP Bisa Dicabut

Namun, perubahan warna air menjadi hitam dan munculnya busa belum cukup untuk memastikan jenis maupun sumber pencemar. Dibutuhkan pemeriksaan secara ilmiah melalui pengambilan dan pengujian sampel air serta, bila diperlukan, sampel limbah dari aktivitas SPPG.

Pemeriksaan terhadap SPPG Rahmatan Lil Alamiin menjadi penting untuk mengetahui sistem pengelolaan limbah yang digunakan. Pemeriksaan tersebut dapat mencakup saluran pembuangan, tempat penampungan, keberadaan IPAL, hingga fungsi fasilitas pengolahan limbah.

Bagi warga yang menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada air sumur, hasil pemeriksaan juga penting untuk memberikan kepastian mengenai penyebab perubahan kualitas air. Dengan begitu, dapat diketahui apakah kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas SPPG atau justru disebabkan faktor lain.

Persoalan ini sekaligus menempatkan pengelola SPPG pada tanggung jawab pengelolaan lingkungan. Pelayanan makanan tidak hanya berkaitan dengan proses produksi dan distribusi makanan, tetapi juga mencakup pengelolaan seluruh sisa produksi yang dihasilkan.

Baca juga :  Puncak Amarah di Lapangan Migas Hidayah

Satgas MBG Sampang sebelumnya telah menegaskan bahwa tata kelola limbah SPPG harus mengikuti SOP dan pembuangan limbah secara sembarangan tidak diperbolehkan.

Karena itu, laporan terbaru mengenai air sumur warga yang berubah hitam dan berbusa perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan kualitas air serta penelusuran sumber limbah.

Jika hasil pemeriksaan dan pengujian laboratorium nantinya membuktikan adanya pencemaran yang berasal dari aktivitas SPPG, langkah berikutnya adalah menentukan bentuk pelanggaran dan pihak yang bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku.

Hingga pemeriksaan lapangan dan hasil laboratorium tersedia, hubungan antara aktivitas SPPG Rahmatan Lil Alamiin dan perubahan kondisi air sumur warga Tambelangan masih sebatas dugaan dan belum dapat dinyatakan sebagai fakta penyebab pencemaran. (ali/nda)

Berita Terkait

Nyanyian Sumbang Eks Kadisdik Sampang, Pengajuan JC Fadeli Tak Kunjung Diterima Kejari
Lima Kawasan Pesisir Sampang Diusulkan Jadi Kampung Nelayan, Desa Dharma Mulai Digarap
Pemkab Sampang Libatkan 12 SPBU Bahas Pelayanan BBM Bersubsidi
Viral Menu Sempol MBG di SDN Ketapang Timur 1, SPPG Birat Barat Jadi Sorotan
Hasil Tangkapan Ikan Minim, Nelayan Mandangin Pilih Tambatkan Perahu
Nyalakan Sound System Malam-Malam, Mertua Dihabisi Menantu Pakai Parang 
Mohammad Fadeli Masuk Bui, Nasrul Hidayat Jadi Pengganti
Polantas Sampang Diminta Tak Sekadar Menindak, Keselamatan Pengguna Jalan Jadi Ukuran Utama

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 03:43 WIB

Nyanyian Sumbang Eks Kadisdik Sampang, Pengajuan JC Fadeli Tak Kunjung Diterima Kejari

Jumat, 25 September 2026 - 03:29 WIB

Lima Kawasan Pesisir Sampang Diusulkan Jadi Kampung Nelayan, Desa Dharma Mulai Digarap

Kamis, 24 September 2026 - 07:33 WIB

Pemkab Sampang Libatkan 12 SPBU Bahas Pelayanan BBM Bersubsidi

Kamis, 24 September 2026 - 05:32 WIB

Viral Menu Sempol MBG di SDN Ketapang Timur 1, SPPG Birat Barat Jadi Sorotan

Kamis, 24 September 2026 - 05:29 WIB

Hasil Tangkapan Ikan Minim, Nelayan Mandangin Pilih Tambatkan Perahu

Berita Terbaru