Oleh: Farhan Afriza, Mahasiswa Institut Bahri Asyiq.
****
MODERNITAS telah membawa perubahan besar dalam cara berpikir, struktur sosial, dan sistem nilai masyarakat global sehingga menjadikan dunia terbentuk serba cepat dan pragmatis.
Hal itu bisa terjadi karena disebabkan adanya rasionalitas instrumental, kemajuan teknologi, sekularisasi, serta dominasi sains modern.
Dalam situasi ini, umat Islam menghadapi tantangan penting: mempertahankan identitas keislaman tanpa terjebak pada penolakan total terhadap modernitas atau justru kehilangan arah karena taklid buta. Di sinilah pemikiran filsafat Islam modern dengan pendekatan self direction menjadi relevan.
Self direction dalam filsafat Islam modern merujuk pada kesadaran intelektual dan moral umat Islam untuk menentukan arah berpikir dan bertindak secara mandiri, berlandaskan nilai-nilai Islam serta tetap terbuka terhadap realitas zaman.
Pendekatan ini menolak sikap pasif, baik berupa ketergantungan pada otoritas lama yang tidak kontekstual maupun penerimaan tanpa kritik terhadap nilai-nilai modern yang bertentangan dengan etika dan spiritualitas Islam.
Realitas menunjukkan bahwa problem modern tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga moral dan filosofis, seperti krisis makna hidup, degradasi etika, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, dan alienasi manusia akibat teknologi digital.
Modernitas sering berhasil secara teknis, namun gagal menyediakan fondasi nilai yang kokoh. Karena itu, filsafat Islam modern perlu berfungsi sebagai kerangka berpikir aktif yang mendorong umat Islam merespons realitas secara kritis.
Pendekatan self direction mengajak umat Islam kembali kepada al-Qur’an, sunnah, dan tradisi intelektual Islam melalui pembacaan yang kontekstual dan reflektif.
Teks agama tidak dipahami secara kaku dan ahistoris, tetapi diposisikan sebagai sumber nilai yang mampu berdialog dengan persoalan kontemporer seperti bioetika, kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan pluralisme budaya.
Dalam praktiknya, pemikiran filsafat Islam modern berbasis self direction menuntut keberanian melakukan ijtihad yang bertanggung jawab, tidak hanya dalam ranah hukum, tetapi juga filosofis, guna memahami tujuan dan nilai ajaran Islam secara relevan.
Dengan demikian, Islam hadir sebagai petunjuk yang mengarahkan modernitas agar tetap berpihak pada kemanusiaan.
Selain itu, self direction memiliki dimensi sosial dan pendidikan, terutama di tengah arus informasi global. Kemandirian berpikir diperlukan agar umat Islam tidak mudah terjebak hoaks, scam, atau liberalisme tanpa batas.
Di sinilah filsafat Islam modern memiliki peran dalam membentuk pola pikir kritis, dialogis, dan bertanggung jawab, sehingga umat Islam mampu berpartisipasi aktif dalam ruang publik global tanpa kehilangan nilai spiritual dan moralnya. (*)














