Oleh: Abrari Alzael, Budayawan & Jurnalis Senior.
****
SEMPAT tersenyum sendiri, ketika wartawan Washington Post (WP), Amerika Serikat (AS), menurunkan berita; berapa kali Donald Trump berbohong saat menjadi presiden di periode pertama (2017-2021)?
Dalam berita WP yang dimuat dua hari berturut-turut di edisi 23 dan 24 Januari 2021, Trump berbohong sebanyak 30.573 kali selama menjabat di awal pemerintahannya (empat tahun).
Jika 1 tahun setara dengan 365 hari, maka Trump memerintah selama 365 hari x 4 tahun = 1.460 hari. Ini berarti, 30.573 (jumlah kebohongan dalam satu periode pertama) dibagi 1.460 (jumlah hari saat menjabat), rata-rata, Trump melakukan 21 kebohongan setiap hari.
Begitulah, di AS, wartawan lebih bebas memilih topik sepanjang bersifat faktawi, berbasis data, dan dapat dipertanggungjawabkan secara jurnalistik.
Gagasan para pihak di negeri Paman Sam itu, agresif, dinamis, dan sedikit liar. Di dunia sinematografi, para sineas berimajinasi tinggi seperti dalam film Olympus Has Fallen (2013), White House Down (2013), dan The Kidnapping of the President (1980). Di film itu mengisahkan cerita teroris yang hendak menculik bahkan membunuh presiden.
Film lainnya, Big Game (2014), mengisahkan Presiden Amerika Serikat (diperankan Samuel L. Jackson), terdampar di hutan Finlandia setelah pesawat yang ditumpangi, Air Force One, ditembak jatuh dan diburu teroris. Begitu juga, film Vantage Point (2008), ada adegan yang menggambarkan penculikan dan pembunuhan presiden.
Gagasan maupun imajinasi yang liar itu, yang datang secara terus-menerus, sangat boleh jadi mengilhami presiden itu sendiri. Sehingga, pemimpin AS memiliki gagasan juga, untuk melakukan hal yang sama seperti di dalam film, terhadap pemimpin di negara lain.
Di Sejarah pemimpin Amerika terdahulu, ide-ide liar itu terjadi. Misalnya, tahun 1954, Jacobo Arbenz (Guatemala), presiden yang terpilih secara demokratis ini digulingkan dalam kudeta yang didukung CIA (Central Intellegence Agency) pasca reformasi tanah yang dinilai rugikan perusahaan AS.
Tahun 1973, Salvador Allende (Chile), presiden sosialis ini digulingkan dalam kudeta militer yang dipimpin Augusto Pinochet, yang ditopang CIA.
Tahun 1989, Manuel Noriega (Panama), tokoh militer yang awalnya aset CIA, digulingkan melalui invasi AS sendiri. Kemudian, Jean-Bertrand Aristide (Haiti, 1991 dan 2004), Manuel Zelaya (Honduras, 2009) dan awal tahun lalu, Nicolas Maduro (Venezuela), ditangkap dan ditargetkan atas arahan AS.
Tokoh lainnya, Mohammad Mosaddegh Perdana Menteri Iran (1953) digulingkan CIA dan Inggris Ngo Dinh Diem (Vietnam, 1963), pemimpin yang didukung, namun digulingkan sendiri oleh AS.
Begitu juga di republik ini, CIA diduga kuat dalam pelengseran Soekarno (1965-1967) dan ikut menaikkan Soeharto. Lalu Saddam Husein (Irak, 2003), Muammar Gaddafi (Libya, 2011), Patrice Lumumba (Kongo, 1960), Kwame Nkrumah (Ghana, 1966).
Kini, bersama Israel, Amerika merudal Iran dan wafatnya pemimpin Iran Ali Khameini (2026) diduga serangan Amerika-Israel yang brutal.
Pertanyaannya, mengapa AS melakukan hal yang seperti disebutkan? Di sinilah fatsunnya. Paman Sam memiliki syahwat untuk berkuasa lintas batas. Negara yang tak tunduk dan dinilai tidak kuat, terancam mengalami nasib seperti para pemimpin negara yang secara faktawi ditumbangkan.
Tetapi, AS tidak akan berani pada Rusia, Korea Utara, dan tentu saja China. Ketiga negara itu cukup Tangguh dalam berserikat dan bersekutu. Lalu, bagaimana dengan Indonesia, apakah AS berani? Donald Trump membuat BoP (Board of Peace), untuk menjaga perdamaian luar negeri. Ternyata, Indonesia berani dan ikut urunan, membayar Rp.17 Triliun.
Walaupun, beberapa hari kemudian, AS menyerang Iran karena dinilai tidak tunduk. Tesis Trump dengan membentuk BoP tidak terbukti untuk menjaga kedamaian. Di pihak lain, apa yang dilakukan Trump dengan BoP itu, kian menegaskan bahwa hari-harinya diwarnai kebohongan.
Dalam teori kebohongan, satu tindakan bohong memerlukan pembenar dengan mendatangkan kebohongan berikutnya.
Lalu apa kabar dengan Presiden Prabowo Subianto yang sudah mentahbiskan Indonesia sebagai bagian dari BoP? Mr Gemoy itu sungguh mulia cita-citanya.
Ia hendak mendamaikan pertikaian antara Israel-AS vs Iran. Ia berencana bertolak ke Teheran, untuk mendinginkan suasana, menjadi penengah atas konflik itu.
Banyak pihak dan tokoh republik ini yang keberatan presiden bertolak ke Teheran termasuk mengirim bala TNI. Prabowo disarankan membenahi kondisi dan situasi dalam negeri.
Begitu juga sejumlah Media Barat, ramai menanggapi kehendak Prabowo itu dengan mengatakan ala anak Jaksel ; emang siapa elho?
Memahami AS dalam episentrum politik, Trump walaupun menurut Washington Post, memiliki konsistensi dalam bersikap atas nama negara, mengikuti pendahulunya. Jika tidak tunduk, diperangi, dikudeta, dan dijatuhkan.
Jika tidak mau damai, diperangi, supaya pada akhirnya bisa damai sebagaimana dikatakan penulis militer Romawi, Publius Flavius Vegetius Renatus, “Si vis pacem, para bellum” (jika mendambakan perdamaian, bersiaplah untuk perang).
Trump tetap ingin berkuasa semaunya, bahkan semuanya, jika bisa. Baginya, pertahanan yang baik adalah menyerang. Ia. mungkin hanya membaca Publius saja dan tidak membuka Albert Einstein ; perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekerasan karena itu hanya bisa dicapai dengan pemahaman. Ucle Sam, ngono yo ngono, neng ojo ngono. (*)














