Saya Bukan Pejuang Kebenaran dan Keadilan. Toh Saya Masih Membela Orang Salah

- Jurnalis

Minggu, 27 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hambali Rasidi, Jurnalis Senior.

—–

SAYA diminta teman-teman untuk menjawab tulisan Mas Fauzi AS. Katanya saya bloon. Karena saya jujur mengaku pernah menerima duit BSPS. Meski Rp 502.500 dan Rp 2 jt usai bayar konsumsi di Cafe Arina.

Saya berusaha tak mau merespon tulisan Mas Fauzi AS. Teman media tanya responya: saya jawab pointer-pointer.

Lama lama saya terpanggil untuk berkata lebih jujur lagi. Sekalian menjawab tulisan Pemred Klik Madura, Sahabat Prengki Wirananda.

Tulisan ini, semoga mewakilinya:

Saya mau jujur. Berusaha jujur apa adanya. Kalau ada yang bilang Rp 10.500.000 atau Rp 11.000.000. Atau lebih dari itu, saya tak mau jelaskan lewat tulisan ini. Biar saya jelaskan kalau penyidik mengundang saya untuk klarifikasi.

Toh tak perlu dijelaskan publik sudah ngerti; Rp 500 juta tersalur ke oknum wartawan, katanya. Siapa saja yang dapat itu. Kalau Mas Fauzi AS ada catatan dari Kiki, soal yang mengalir ke oknum, tidak apa-apa dibuka.

Baca juga :  Air Liur Direktur RSUD Smart Pamekasan untuk Pasien Gagal Ginjal

Sebagian catatan itu, saya dapat dari orang Kiki. Orang itu yang malam hari menemani Kiki usai penggeledahan.

Tulisan ini, saya lebih menekankan pada pribadi saya. Saya tak mau menyinggung siapa-siapa.

Saya mulai tulisan ini:

Saya malu kepada Tuhan. Saya tidak mau sok suci. Saya sudah berlumur dosa. Saya masih hidup dalam lingkungan penuh kepentingan untuk bertahan hidup.

Kalau saya mengaku pejuang kebenaran dan keadilan, berarti saya sedang menipu diri sendiri. Juga menipu Tuhan. Munafik, namanya. Berkedok pejuang. Toh, hati berharap cuan siang malam.

Bukankah pejuang sejati hanya berharap cinta Tuhan? Seperti kata Rabiah Al Adawiyah, pejuang kebenaran itu tak takut neraka. Juga tak berharap surga. Yang diharap Cinta Ilahi.

Karena itu, saya belum layak disebut orang baik. Apalagi disebut suci. Karena saya masih membela orang yang salah. Saya masih berkawan dengan orang yang tidak sempurna. Saya masih mencari makan dari usaha dunia. Saya tidak berhak memakai gelar pejuang sejati.

Baca juga :  Sumenep-Bangkalan Dapat Jatah BSPS Paling Banyak, Padahal Sampang Paling Miskin

Tapi justru karena itulah saya berusaha jujur. Biar semua tahu: saya bukan malaikat. Saya tak ingin orang tertipu oleh mulut manis.

Saya lebih suka dihina daripada dipuja-puja. Saya lebih tenang membuka aib sendiri daripada sibuk menutupi aib sendiri, demi penilaian semu.

Saya tidak sedang cari panggung. Saya cari hidup. Dan kebetulan Tuhan memberi jalan hidup saya di pusaran manusia-manusia pencari dunia. Para pecinta dunia. Yang selalu silau terhadap keindahan dunia.

Saya berdiri di tengah ombak yang kadang mengarahkan saya ke kanan, kadang ke kiri. Saya sadar. Karena itu saya malu kepada Tuhan. Karena selalu berbuat salah.

Baca juga :  Ayam Jantan dan Safari Rakyat di Ujung Negeri

Saya tahu: orang yang zuhud itu tidak sibuk rebutan proyek. Atau mencari cari celah untuk dikonversi ke rupiah. Apalagi membela orang salah.

Saya juga ngerti: orang yang ikhlas itu tidak sibuk cari likes atau sanjungan. Saya belum sampai ke sana. Tapi saya sadar, dan saya sedang berusaha selalu bersyukur. Karena itu, saya lebih suka dihina daripada dipuja-puji.

Soal tuduhan akun TikTok bodong—silakan Mas Fauzi telusuri. Kalau Mas Fauzi AS serius ingin tahu siapa dalangnya, saya bantu. Saya punya teman hacker. Atau Mas Fauzi cari  lewat kenalannya di Jogja atau Jakarta.

Terakhir.

Yang saya lakukan cuma satu: Lebih baik saya hina diri sendiri, daripada orang lain memuja saya atas kebohongan.

Toh publik ngerti tak perlu dijelaskan sampai berbusa. Bagaimana cara cari duit dari para pecinta dunia. (*)

Berita Terkait

Satu Suara Seribu Suaka
Sayonara di Jejak Komplikasi Lahir Batin
Negeri yang Menggenggam Petir
Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak
Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis
Mutasi Membantah Matahari Kembar
Meneguhkan Arah Baru NU Sumenep: Dari Khidmah Kultural Menuju Kemandirian Sosial
Metamorfosa Kata

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 01:43 WIB

Satu Suara Seribu Suaka

Jumat, 6 Februari 2026 - 01:15 WIB

Sayonara di Jejak Komplikasi Lahir Batin

Jumat, 30 Januari 2026 - 03:03 WIB

Negeri yang Menggenggam Petir

Jumat, 23 Januari 2026 - 02:15 WIB

Demokrasi Berkembang Biak dalam Asbak

Jumat, 16 Januari 2026 - 05:51 WIB

Sebab Tuhan Tak Terlalu Teknis

Berita Terbaru

Opini

Satu Suara Seribu Suaka

Jumat, 13 Feb 2026 - 01:43 WIB