Pertamina Gelorakan Transisi Energi Nasional dengan Inovasi Hijau dan Teknologi Terdepan

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 13 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu anjungan milik Pertamina Hulu Energi (PHE). (SUMBER FOTO: IG @phe.pertamina)

Salah satu anjungan milik Pertamina Hulu Energi (PHE). (SUMBER FOTO: IG @phe.pertamina)

MADURA || KLIKMADURA – PT Pertamina (Persero) kini lebih dari sekadar perusahaan minyak dan gas nasional. Perusahaan ini menegaskan perannya sebagai pemimpin dalam era energi hijau Indonesia dengan visi “energi untuk negeri”.

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Abd. Hanan mengatakan, banyak inovasi dan langkah yang sudah dilakukan Pertamina untuk mendorong transisi energi nasional dengan inovasi hijau. Di antaranya, pengembangan panas bumi dalam skala besar serta perluasan proyek tenaga surya.

Melalui anak usaha seperti Pertamina Geothermal Energy dan Pertamina New & Renewable Energy, Pertamina mengelola kapasitas geothermal lebih dari 1.800 MW. Bahkan, perusahaan milik negara itu tengah menyiapkan proyek PLTS ratusan megawatt.

”Inovasi teknologi menjadi pilar penting dalam transformasi ini. Pertamina mengimplementasikan digital twin, smart grid serta predictive maintenance pada infrastruktur produksi dan distribusi energi guna menjaga ketersediaan serta mempercepat respons terhadap gangguan pasokan,” katanya, Jumat (13/06/2025).

Menurut Hanan, keberadaan energi hijau tersebut mendukung lima pilar ketahanan energi nasional, yakni ketersediaan pasokan, kemudahan akses, keterjangkauan, penerimaan masyarakat, dan keberlanjutan.

Dengan memanfaatkan potensi domestik yang melimpah seperti panas bumi dan sinar matahari, Pertamina mampu menurunkan ketergantungan impor energi dan memperkuat swasembada.

”Pertamina mengimplementasikan misi Presiden Prabowo terkait swasembada energi melalui berbagai inovasi hijau untuk menciptakan energi baru terbarukan,” kata akademisi UIN Madura tersebut.

Menurutnya, dalam aspek ekonomi dan sosial, investasi Pertamina memberikan dampak nyata bagi masyarakat lokal. Proyek-proyek EBT dan program tanggung jawab sosial membuka lapangan kerja baru, memberdayakan UMKM setempat, dan memperkuat ekonomi daerah.

Di wilayah operasi seperti Madura hingga Sulawesi, masyarakat merasakan bahwa energi bukan hanya sebagai konsumsi tetapi juga sebagai peluang. Melalui konektivitas listrik yang diperluas, panel surya komunitas dan mini-grid, akses energi menjadi lebih mudah dan merata.

Meski tantangan besar seperti kebutuhan investasi yang masif dan regulasi yang konsisten masih menanti, Pertamina memilih untuk bergerak cepat.

Transformasi tersebut membawa harapan bahwa energi masa depan Indonesia tidak hanya akan tersedia dan terjangkau, tetapi juga diterima seluruh lapisan masyarakat dan lestari bagi generasi mendatang.

”Kami sebagai akademisi sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan Pertamina dalam rangka mendorong swasembada dan ketahanan energi nasional. Kami yakin, melalui inovasi yang dilakukan, Pertamina akan memimpin transisi energi nasional,” terangnya.

Baca juga :  Tragis! Mahasiswi UTM Dibunuh dan Dibakar Kekasih Lantaran Hamil

Langkah strategis Pertamina dalam transisi energi tidak hanya berhenti pada proyek-proyek besar di sektor panas bumi dan tenaga surya.

Perusahaan energi pelat merah ini juga menjadi pionir dalam pemanfaatan bioenergi, hidrogen hijau, dan bahan bakar rendah karbon sebagai bagian dari green refinery dan co-processing di berbagai kilang nasional.

Di Kilang Cilacap dan Balikpapan, misalnya, Pertamina telah berhasil memproduksi green diesel (D100) berbahan baku minyak kelapa sawit, yang menjadi tonggak sejarah pertama di Asia Tenggara.

Menurut laporan Pertamina Annual Sustainability Report (2024), proyek green refinery tersebut tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional melalui hilirisasi energi hijau berbasis sumber daya domestik.

“Kita sedang menyaksikan pergeseran paradigma. Dari sekadar eksploitasi energi fosil menuju ekonomi energi berkelanjutan,” tulis laporan tersebut.

Tidak berhenti di situ, Pertamina juga memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan hidrogen hijau (green hydrogen), dengan potensi produksi hingga 100 MW di berbagai lokasi strategis, termasuk di sekitar Jawa Timur.

Potensi ini sangat relevan dengan arah kebijakan global menuju net zero emission pada tahun 2060 sebagaimana ditetapkan pemerintah Indonesia.

PHE WMO Simbol Transformasi di Wilayah Pesisir

Di wilayah Madura dan sekitarnya, kiprah Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) menjadi bukti konkret bagaimana industri hulu migas ikut bertransformasi menuju operasi yang lebih hijau dan efisien.

PHE WMO, yang beroperasi di perairan barat Pulau Madura, telah mengimplementasikan berbagai teknologi efisiensi energi dan pengelolaan lingkungan, termasuk penggunaan sistem flare gas recovery untuk menekan emisi metana dan pengelolaan limbah produksi secara terpadu.

Selain itu, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berorientasi lingkungan, PHE WMO aktif mendorong community development di sektor pesisir.

Program rehabilitasi mangrove di Pamekasan dan Bangkalan, pelatihan budidaya ikan dan kepiting ramah lingkungan.

Kemudian, pengembangan energi surya skala kecil untuk penerangan nelayan menjadi contoh nyata transformasi sosial hijau di tingkat akar rumput.

Abd. Hanan menilai, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya urusan teknologi tinggi, tetapi juga persoalan keadilan sosial (energy justice).

Baca juga :  Usai Ditetapkan sebagai Bupati-Wabup Bangkalan Terpilih, Lukman-Fauzan Komitmen Lawan Korupsi

“PHE WMO menunjukkan bagaimana energi hijau bisa menyentuh masyarakat pesisir dengan program nyata. Energi yang adil bukan hanya yang bersih, tetapi yang memberi manfaat langsung kepada rakyat,” ujar Hanan.

Program energi surya komunitas di beberapa desa pesisir di Madura bahkan menjadi model nasional. Panel surya berdaya 50 kWp yang dibangun dengan dukungan Pertamina NRE dan PHE WMO di Desa Pegagan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan berhasil menyediakan listrik bagi 120 KK nelayan.

Sekaligus, mampu mengurangi ketergantungan terhadap genset berbahan bakar minyak. Proyek ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan ketahanan energi lokal berbasis energi terbarukan.

Tantangan dan Jalan Panjang Transisi

Meski sukses menginisiasi transformasi, Pertamina menghadapi berbagai tantangan. Pertama, kebutuhan investasi yang sangat besar. Yaitu, lebih dari US$ 70 miliar hingga 2040 untuk memenuhi target bauran EBT 30 persen.

Kedua, belum seragamnya regulasi dan tarif pembelian listrik EBT di tingkat daerah, termasuk di wilayah Madura, di mana distribusi infrastruktur masih terbatas.

Selain itu, tantangan sosial juga tidak bisa diabaikan. Beberapa proyek geothermal nasional masih menghadapi resistensi masyarakat terkait kekhawatiran dampak lingkungan.

Namun, Pertamina mencoba menanggapi dengan pendekatan partisipatif. Proyek panas bumi Kamojang dan Lumut Balai, misalnya, kini dijadikan pusat edukasi publik agar masyarakat memahami manfaat energi bersih secara langsung.

Di Madura, pendekatan serupa diadopsi PHE WMO dengan menggabungkan kegiatan produksi hulu migas yang ramah lingkungan dan pendidikan publik melalui Marine Education Program. Program ini melibatkan pelajar dan mahasiswa lokal untuk belajar tentang energi, konservasi laut, dan teknologi produksi bersih.

Sinergi Energi, Sosial, dan Lingkungan

Transformasi Pertamina bukan hanya tentang energi, tetapi juga tentang perubahan cara pandang terhadap pembangunan nasional. Energi kini menjadi instrumen sosial dan lingkungan.

Di bawah subholding Pertamina Hulu Energi (PHE), berbagai proyek eksplorasi migas di laut kini disertai program mitigasi emisi karbon melalui penanaman mangrove dan carbon offset project di pesisir Madura, Tuban, dan Balikpapan.

Kolaborasi lintas entitas antara PHE WMO, Pertamina NRE, dan pemerintah daerah membentuk konsep Integrated Energy Cluster di kawasan pesisir utara Jawa.

Baca juga :  Penanganan Kasus Kepala Bayi Terputus di Puskesmas Modung Lamban, Kuasa Hukum Korban Soroti Kinerja Polres Bangkalan

Model ini memungkinkan optimalisasi seluruh rantai energi, dari hulu migas, energi surya, bioenergi, hingga pengelolaan limbah. Konsep tersebut menjadi bukti bahwa integrasi migas dengan EBT dapat berjalan seiring.

Hanan menilai, strategi semacam itu merupakan contoh ideal penerapan prinsip Just Energy Transition Partnership (JETP) di tingkat lokal.

“PHE WMO bukan sekadar unit produksi minyak, tetapi laboratorium sosial untuk masa depan energi berkeadilan. Di sini energi fosil dan energi hijau tidak dipertentangkan, tetapi disinergikan,” ungkapnya.

Menuju Masa Depan Energi Hijau Indonesia

Menurut laporan Katadata Insight Center 2025, kontribusi EBT Pertamina Group telah mencapai 13 persen dari total bauran energi nasional, dan akan meningkat seiring proyek-proyek baru di sektor surya dan panas bumi.

Sementara itu, Pertamina juga aktif dalam Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) di lapangan migas seperti Sukowati dan Gundih, yang berpotensi menahan 3 juta ton CO₂ per tahun.

Inovasi seperti ini menegaskan bahwa energi bersih tidak berarti meninggalkan migas, tetapi memodernisasinya agar ramah karbon. Di Madura, PHE WMO sudah memulai langkah serupa dengan studi awal carbon injection di sumur tua, serta pemanfaatan gas sisa untuk pembangkitan listrik mikro di anjungan offshore.

Dalam konteks global, upaya Pertamina mendapat pengakuan internasional. World Economic Forum (2025) menempatkan Pertamina dalam daftar Top 50 Energy Transition Leaders in Emerging Markets, sejajar dengan Petrobras (Brasil) dan PETRONAS (Malaysia).

Transformasi Pertamina mencerminkan perubahan paradigma nasional bahwa energi tidak lagi hanya tentang produksi, tetapi tentang keberlanjutan, pemerataan, dan martabat bangsa.

Di tengah tantangan global dan domestik, Pertamina telah membuktikan bahwa perusahaan milik negara bisa menjadi lokomotif inovasi, bukan sekadar pengelola sumber daya alam.

Di Madura, langkah-langkah yang ditempuh PHE WMO menjadi mikro-kosmos dari visi besar tersebut. Yakni, bagaimana energi bersih dan inovasi hijau diterjemahkan menjadi kesejahteraan nyata bagi masyarakat pesisir.

 “Pertamina, melalui berbagai lini usahanya, telah menunjukkan bahwa masa depan energi Indonesia adalah masa depan yang hijau, mandiri, dan berpihak pada rakyat,” tandas Hannan menutup wawancara. (nda)

Berita Terkait

Sandur Madura, Warisan Agraris yang Menari di Tengah Zaman
Warga Resah Dugaan Pertalite Oplosan di Bangkalan, HMI Desak Pertamina dan Aparat Lakukan Investigasi Lanjutan
PHE West Madura Offshore, Energi dan Mimpi Nyata Masyarakat Madura
HIMMAN UTM Gaungkan Cinta Lingkungan Lewat Society Festival 2025, Bupati Beri Aspirasi
Jejak PHE WMO di Tanah Garam: Menjaga Energi, Menumbuhkan Kehidupan
Mahasiswa UTM Latih Ibu-Ibu Pesisir Pamekasan Jadi Pengusaha Ikan Asap Mandiri
Warga Desa Baipajung Bangkalan Antusias Sambut Diskon 50 Persen Tambah Daya Listrik
UTM Angkat Jamu Madura ke Dunia Internasional Lewat Short Course

Berita Terkait

Kamis, 4 Desember 2025 - 23:57 WIB

Sandur Madura, Warisan Agraris yang Menari di Tengah Zaman

Senin, 3 November 2025 - 05:36 WIB

Warga Resah Dugaan Pertalite Oplosan di Bangkalan, HMI Desak Pertamina dan Aparat Lakukan Investigasi Lanjutan

Kamis, 23 Oktober 2025 - 19:15 WIB

PHE West Madura Offshore, Energi dan Mimpi Nyata Masyarakat Madura

Selasa, 21 Oktober 2025 - 03:36 WIB

HIMMAN UTM Gaungkan Cinta Lingkungan Lewat Society Festival 2025, Bupati Beri Aspirasi

Selasa, 7 Oktober 2025 - 23:20 WIB

Jejak PHE WMO di Tanah Garam: Menjaga Energi, Menumbuhkan Kehidupan

Berita Terbaru

Opini

Valen, Media, dan Atribusi

Jumat, 2 Jan 2026 - 01:22 WIB

Opini

Madura dan Nyala Api yang Tak Pernah Padam

Rabu, 31 Des 2025 - 15:16 WIB