LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan, Klik Madura.
****
LUKA akibat pengkhianatan cinta dapat menjelma menjadi karya sastra yang menyentuh hati pembaca. Melalui puisi, seorang penyair menumpahkan pengalaman batin, menyimpan misteri, sekaligus menghadirkan beragam makna yang tidak selalu selesai untuk ditafsirkan.
Hal itulah yang menarik perhatian Muhammad Tauhed Supratman, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Madura (Unira), terhadap kumpulan puisi Ranjang Poskolonial karya Royyan Julian.
Ketertarikannya pada luka-luka batin yang tersirat dalam puisi-puisi tersebut mengantarkannya menulis buku Lukamu Abadi: Kajian Hermeneutik terhadap Kumpulan Puisi Ranjang Poskolonial Karya Royyan Julian.
Buku setebal 328 halaman itu mengulas 48 puisi pilihan dari sekitar 50 puisi dalam kumpulan karya Royyan. Melalui kajian hermeneutik, Tauhed berupaya menelusuri simbol, mengungkap makna, serta membuka tabir misteri yang tersembunyi di balik sajak-sajak sang penyair.
Ketertarikan Tauhed terhadap Ranjang Poskolonial bermula ketika dirinya bersama Royyan menjadi penilai dalam sebuah makalah pada seminar akademik mahasiswa Unira. Kebetulan, mahasiswa yang mengikuti seminar tersebut mengkaji karya Royyan yang berjudul Ranjang Poskolonial.
Dari pertemuan itulah Tauhed berkesempatan menerima buku tersebut secara langsung. Namun, bukan sekadar isi puisi yang membuatnya tertarik. Sebuah percakapan dengan Royyan justru menjadi pintu masuk bagi Tauhed untuk menyelami lebih jauh sisi personal yang mungkin tersimpan di balik karya-karya sang penyair.
“Kemudian saya dikasih buku itu, dan Pak Royyan ini ketika memberikan pengarahan tentang ulasan itu nanya, ‘Kamu tahu kenapa sampai saat ini saya tidak menikah?’ Saya dengarkan itu dengan saksama dan beliau menjawab, ‘Karena saya ini pernah dikhianati dan sering mengkhianati’. Maka dari itu saya tertarik, kemudian saya sambung, ‘Apakah itu semua tertulis di buku itu, Pak Ro?’ Beliau hanya tersenyum,” ujar Tauhed, Senin (12/10/2026).
Percakapan tersebut meninggalkan rasa penasaran bagi Tauhed. Ia kemudian membaca puisi demi puisi dalam Ranjang Poskolonial untuk menelusuri bagaimana pengalaman tentang cinta, pengkhianatan, dan luka batin dituangkan Royyan ke dalam karya sastra.
Bagi Tauhed, puisi-puisi Royyan menyimpan misteri yang tidak mudah diungkap. Salah satunya terlihat dalam puisi berjudul Kerapuhan Cinta. Sosok perempuan yang menjadi bagian dari cerita dalam puisi itu tetap menjadi tanda tanya. Begitu pula dengan pertanyaan tentang seberapa rapuh cinta yang dialami Royyan Julian.
“Karya Royyan tersebut semuanya membicarakan tentang cinta, seperti judul puisi Kerapuhan Cinta yang menjadi misteri siapa sosok gadis yang dimaksud. Dan benarkah begitu rapuh cinta Royyan Julian itu? Yang sampai saat ini tetap menjadi misteri,” tutur Tauhed.
Ia meyakini, seorang penyair kerap menyisakan ruang misteri dalam karya-karyanya. Tidak semua pengalaman pribadi harus dijelaskan secara gamblang kepada pembaca. Justru, ketidakpastian itulah yang memungkinkan puisi terus hidup melalui beragam penafsiran.
“Karena seorang penyair itu selalu menunjukkan kemisteriannya, misteri tentang cinta. Andaikan mereka itu dipersatukan, mungkin gadis itu akan abadi pada karya-karyanya Royyan Julian. Setelah buku ini sudah di tangan Pak Royyan, beliau hanya menanggapi, ‘Makasih Pak Tauhed, ini begitu lengkap ulasannya’. Itu saja komentarnya,” kata Tauhed.
Kado Ulang Tahun untuk Sang Penyair
Selain menjadi ruang untuk menafsirkan luka dan misteri cinta, buku Lukamu Abadi juga memiliki makna personal bagi Tauhed. Ia teringat nama belakang Royyan, yakni Julian, yang menurutnya berkaitan dengan bulan Juli. Dari ingatan itu, muncul keinginan untuk menjadikan buku tersebut sebagai hadiah ulang tahun bagi sang penyair.
Niat itu kemudian dituangkan secara langsung pada halaman depan buku. Tauhed mempersembahkan karyanya kepada Royyan sebagai hadiah ulang tahun ke-37 yang jatuh pada 3 Juli 2026.
Dalam buku tersebut tertulis, ‘Kupersembahkan untuk: Adikku, temanku, saudaraku, Royyan Julian sebagai kado Ulang Tahun ke-37, 3 Juli 1989’.
Persembahan itu menjadi penanda bahwa buku tersebut tidak hanya lahir dari ketertarikan akademik terhadap karya sastra, tetapi juga dari kedekatan personal dan penghargaan Tauhed terhadap perjalanan kreatif Royyan.
Dalam proses penulisannya, Tauhed terlebih dahulu membaca keseluruhan kumpulan puisi, kemudian menentukan arah pembacaan, mengenali simbol-simbol yang muncul, dan menafsirkan makna yang terkandung di dalamnya.
Menurut dia, sebuah karya sastra akan terus terbuka terhadap penafsiran baru setelah berada di tangan pembaca. Makna puisi tidak sepenuhnya berhenti pada maksud pengarang, tetapi berkembang melalui pengalaman dan sudut pandang orang yang membacanya.
“Dan keunikan puisi itu menjadi indah apabila tafsirannya tidak pernah selesai. Makanya saya tulis di pengantar perihal alasan pemilihan judul Lukamu Abadi ini dan saya kemas dengan puisi di belakang sampul buku ini,” ujar Tauhed.
Setelah menjelaskan alasan pemilihan judul tersebut, Tauhed kemudian membacakan puisi yang tercantum di bagian belakang sampul bukunya di hadapan jurnalis Klik Madura.
Berbuah Penghargaan Sutasoma
Buku Lukamu Abadi tidak berhenti sebagai karya kajian sastra yang dipersembahkan untuk Royyan Julian. Berkat dorongan sejumlah teman, Tauhed memberanikan diri mengirimkan karyanya ke ajang Penganugerahan Sutasoma yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.
Karya tersebut kemudian terpilih dalam kategori Buku Esai/Kritik Sastra. Tauhed pun menerima penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam kajian sastra.
Penghargaan Sutasoma menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan panjang Tauhed di dunia kepenulisan. Ketertarikannya terhadap sastra sendiri telah tumbuh sejak ia duduk di kelas II Sekolah Pendidikan Guru (SPG), jenjang pendidikan yang pada masanya setara dengan sekolah menengah atas.
Menariknya, perjalanan Tauhed di dunia sastra tidak berawal dari kecintaannya terhadap pelajaran Bahasa Indonesia. Saat duduk di kelas I SPG, ia justru memperoleh nilai 6 untuk mata pelajaran tersebut. Namun, pertemuannya dengan seorang guru mengubah pandangannya terhadap dunia kepenulisan.
Guru yang dimaksud adalah Bashir Ahmad Suparlan, yang baru lulus dari Texas University. Dari gurunya itu, Tauhed mulai mengenal dunia menulis secara lebih dekat hingga akhirnya terdorong untuk menghasilkan karya sendiri.
“Kemudian saya terpengaruh dari guru saya yang menjadi inspirasi saya untuk terus menulis, yaitu Bashir Ahmad Suparlan yang baru lulus dari Texas University dan berbicara tentang menulis, makanya saya tertarik,” ungkap Tauhed.
Sejak masih bersekolah, Tauhed telah mengirimkan sejumlah tulisan ke berbagai media lokal. Tulisan pertamanya dimuat Jawa Pos pada 1989 dengan judul Peran Wanita dalam Pembangunan. Setelah itu, ia mulai beralih menulis puisi. Puisi pertamanya dimuat di majalah Pembangunan Agama milik Departemen Agama, yang kini menjadi Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kebiasaan membaca koran turut membentuk perjalanan kreatifnya. Tauhed mengaku gemar membaca surat kabar, terutama edisi Sabtu dan Minggu karena biasanya memuat rubrik sastra. Beberapa surat kabar yang menjadi bacaannya antara lain Jawa Pos, Kompas, Republika, Suara Karya, Surya, dan Simponi.
Kecintaannya terhadap bahasa dan sastra juga tercermin melalui puisi berbahasa Madura. Pada 1993, puisinya yang berjudul Madura e koncokna perreng dimuat di Jawa Pos. Karya tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjangnya dalam menekuni dunia kepenulisan.
“Kemudian saya melanjutkan kuliah di tahun 1997 di Unira setelah nganggur selama 7 tahun yang saya isi dengan mengikuti pendidikan jurnalistik mandiri di Jakarta,” ucapnya.
Sastra sebagai Ruang Kritik
Perjalanan Tauhed sebagai penulis juga tidak terlepas dari situasi sosial dan politik yang melingkupi Indonesia. Pada 1998, ketika gelombang Reformasi memanas, ia menulis puisi berjudul Nyanyian dari Kampus.
Puisi tersebut menjadi bentuk protes terhadap pemerintah pada masa itu. Tauhed kemudian mengirimkannya ke Radio Nederland. Karya itu dimuat dan dibacakan, sekaligus memberinya pengalaman yang berkesan karena memperoleh honorarium yang terbilang besar pada zamannya.
Ia mengaku menerima honorarium Rp750 ribu dari puisi tersebut. Jumlah itu jauh melampaui honorarium puisi di Indonesia saat itu, yang menurutnya berkisar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa sastra bagi Tauhed bukan semata-mata ruang untuk mengungkapkan perasaan, melainkan juga sarana menyampaikan kritik terhadap keadaan sosial dan politik.
Puluhan tahun setelah karya-karya itu ditulis, perjalanan kreatif Tauhed kembali menemukan ruang baru. Sejumlah puisinya dihimpun bersama karya D. Zawawi Imron dan Sutardji Calzoum Bachri oleh Dewan Kesenian Jakarta dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Himpunan tersebut bernuansa kritik terhadap Indonesia, mencakup puisi baru maupun puisi lama.
Di tengah perjalanan panjangnya sebagai pendidik dan penulis, Tauhed tetap memandang sastra sebagai bagian penting dalam dunia pendidikan. Ia menilai pembelajaran sastra di sekolah masih menghadapi tantangan, terutama ketika pengajaran lebih banyak bertumpu pada buku teks daripada praktik penciptaan karya.
Menurutnya, siswa perlu memperoleh ruang yang lebih luas untuk membaca, menafsirkan, dan menulis karya sastra. Dengan demikian, sastra tidak hanya dipahami sebagai materi pelajaran, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah kepekaan, mengolah pengalaman, dan menyampaikan gagasan.
Prinsip itulah yang terus dipegang Tauhed hingga kini, baik dalam menulis maupun dalam menjalani perannya sebagai pengajar.
“Karena saya memiliki prinsip, ‘menulislah sebelum menulis itu dilarang, walaupun sastra menjadi anak tiri pembelajaran’. Karena sastra itu tidak benar-benar diajarkan di sekolah karena itu bentukannya hanya textbook, jadi sulit untuk melahirkan anak-anak yang mampu menulis sastra,” tandasnya. (*)














