Menyaksikan Kesenian Wayang Kulit Pamekasan: Satu-satunya di Madura, Ajarkan Falsafah Kehidupan

- Jurnalis

Kamis, 8 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para anggota Panti Budaya Pamekasan latihan pentas wayang kulit Madura di area Vihara Avalokitesvara Pamekasan, Selasa (6/10/2026). (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).

Para anggota Panti Budaya Pamekasan latihan pentas wayang kulit Madura di area Vihara Avalokitesvara Pamekasan, Selasa (6/10/2026). (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).

Kesenian Wayang Kulit di Pamekasan sudah memasuki masa menopause, perlu adanya regenerasi untuk membangkitkan kembali budaya warisan leluhur itu.

LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan, Klik Madura.

****

ANGIN malam berembus cukup kencang ketika bulan menggantung di langit Pamekasan, Selasa (6/10/2026). Di tengah suasana malam yang tenang, suara gamelan perlahan memecah kesunyian dari kompleks Vihara Avalokitesvara, Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis.

Bukan ritual keagamaan yang sedang berlangsung. Di salah satu bangunan yang menyerupai pendopo, sejumlah pegiat seni tengah berlatih pementasan wayang kulit Madura.

Di tempat itu, kesenian yang telah hidup ratusan tahun tersebut berusaha tetap bernapas. Di tengah perubahan zaman dan semakin minimnya minat generasi muda, para pegiatnya berupaya menjaga agar wayang kulit Madura tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.

Beberapa perangkat gamelan tertata rapi di sudut ruangan. Kendang, bonang, kenong, gong, kempul dan sejumlah instrumen lainnya ditutup kain merah agar terlindung dari debu.

Malam itu, alat-alat musik tersebut kembali dimainkan. Tabuhan kendang menjadi penanda dimulainya latihan. Suara gamelan kemudian mengalun, mengiringi para pemain yang sedang mempersiapkan pementasan.

Di antara mereka terdapat Ketua Vihara Avalokitesvara sekaligus Ketua Sanggar Panti Budaya Kosala Mahinda dan seorang dalang bernama Dirman.

Kosala menjadi salah satu orang yang terus berusaha mempertahankan keberadaan wayang kulit Madura di Pamekasan. Namun, ia mengakui tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menjaga pertunjukan tetap berlangsung, melainkan memastikan ada generasi yang mau meneruskannya.

Baca juga :  Dana Hibah Koperasi Rp 4 Miliar Jadi Sorotan KPK, Muttaqin: Insyaallah Aman!

“Di sini anggotanya mayoritas yang sudah tua. Jarang sekali anak muda yang tertarik pada wayang ini. Kalau dulu banyak, tapi para generasinya itu tidak mau melanjutkan,” kata Kosala.

Menurut Kosala, wayang kulit Madura memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Dahulu, kesenian tersebut dikenal di empat kabupaten di Pulau Madura. Namun, seiring perubahan zaman, keberadaannya semakin menyusut.

Kini, Pamekasan menjadi daerah yang masih mempertahankan kesenian wayang kulit Madura tersebut.

Bagi sebagian umat Buddha di Vihara Avalokitesvara, wayang juga memiliki hubungan dengan tradisi nazar. Ketika seseorang memiliki hajat setelah melaksanakan sembahyang dan keinginannya terkabul, pementasan wayang dapat digelar sebagai bentuk pemenuhan nazar.

Lakon yang dimainkan pun tidak selalu sama. Ceritanya disesuaikan dengan niat atau hajat orang yang menggelar pementasan.

“Lakon pementasan disesuaikan dengan niat atau hajat dari pihak yang punya hajat itu,” ujar Kosala.

Namun, wayang bagi Kosala bukan hanya perkara pertunjukan. Di balik tokoh, dialog dan alur cerita, terdapat pesan filosofis mengenai kehidupan manusia.

Ia menyebut wayang berbeda dengan ludruk yang banyak mengangkat cerita rakyat. Wayang memiliki lapisan cerita yang lebih luas, mulai dari kehidupan manusia, alam hingga dewa.

“Kalau orang sudah paham jalan ceritanya, ini nanti kebanyakan tentang kehidupan manusia, alam dan juga dewa. Kalau puncak ceritanya itu tentang Ramayana dan Mahabharata, itu diulas secara mendalam,” terangnya.

Baca juga :  Diduga Jadi Korban Tawuran di Depan Masjid Agung Asy-Syuhada, Satu Tewas Dua Luka

Wayang kulit Madura juga memiliki identitas yang membedakannya dengan pertunjukan wayang di daerah Jawa, seperti Solo dan Jogjakarta.

Bahasa menjadi salah satu ciri yang paling mudah dikenali. Dalang menggunakan bahasa Madura dalam membawakan cerita. Sinden pun menggunakan bahasa Madura saat mengiringi pertunjukan.

Nama dan penyebutan sejumlah tokoh juga mengalami penyesuaian dalam pelafalan masyarakat Madura.

Arjuna, misalnya, memiliki pelafalan yang berbeda dengan penyebutan dalam tradisi Jawa. Begitu pula Kresna yang dalam masyarakat Madura dikenal dengan pelafalan Kresna. Namun, terdapat sejumlah nama tokoh yang tetap dipertahankan seperti Brotoseno.

“Tokoh wayang itu ada banyak. Kalau mau komplet sampai 800 lebih. Jadi mainnya itu sampai enam jam. Kalau dulu sampai delapan jam, tapi sekarang sudah dipangkas biar tidak terlalu lama,” ungkap Kosala.

Durasi yang panjang itu menunjukkan betapa luasnya cerita yang dapat dibawakan dalam satu pertunjukan. Namun, di tengah kehidupan masyarakat modern yang semakin cepat, pertunjukan selama berjam-jam tentu menjadi tantangan tersendiri.

Kosala menyadari bahwa sebagian besar anak muda Pamekasan bahkan mungkin tidak lagi mengenal keberadaan wayang kulit Madura. Karena itu, ia membuka pintu sanggar selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin belajar.

Bahkan, ia bersedia mendatangkan pelatih dari luar daerah apabila ada anak muda yang benar-benar serius menekuni kesenian tersebut.

“Saya siap mendatangkan pelatihnya. Ini yang mukul kendangnya dari Ngawi. Kemudian kemarin ada anak Sumenep yang tertarik ke wayangnya, saya datangkan pembuat wayang dari Solo ke sini untuk mengajarkan anak Sumenep itu sampai tahu,” terang Kosala.

Baca juga :  Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih di Pamekasan Belum Capai Target

Upaya itu menunjukkan bahwa menjaga wayang tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan. Pengetahuan tentang musik, pembuatan wayang, karakter tokoh hingga cara membawakan lakon juga harus diwariskan.

Sebab, sebuah kesenian bisa saja tetap tercatat sebagai warisan budaya. Namun, tanpa manusia yang mau mempelajari dan memainkannya, warisan tersebut perlahan bisa kehilangan denyut kehidupannya.

Kosala berharap pemerintah ikut mengambil peran lebih besar. Salah satunya dengan memperkenalkan wayang kulit Madura kepada anak-anak sejak bangku sekolah.

Mulai tingkat SD, SMP hingga SMA/SMK, wayang dapat diperkenalkan bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya Pamekasan.

“Toh, wayang kulit ini sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) milik Pamekasan. Eman kalau sampai generasi muda tidak tahu. Siapa yang akan meneruskan kalau bukan mereka?” pungkasnya.

Malam semakin larut. Tabuhan gamelan masih terdengar dari kompleks vihara. Di tengah suara kendang dan gong itu, para pegiat Panti Budaya sebenarnya sedang memainkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertunjukan. Mereka sedang menjaga ingatan.

Sebab ketika satu generasi berhenti memainkan wayang, yang mungkin hilang bukan hanya sebuah kesenian. Bisa jadi, ikut terputus pula satu bagian dari cara orang Madura memahami kehidupan melalui cerita, simbol dan filsafat yang diwariskan dari generasi ke generasi. (nda)

Berita Terkait

APBD 2027 Mulai Dibahas, Ketua DPRD Pamekasan Sebut DAK Berpotensi Naik
Lima Tahun Buron, Pelaku Pembacokan Cakades Batubintang Ditangkap di Jember
Cegah NAPZA pada Remaja, Dinkes Pamekasan Perkuat Koordinasi Lintas Sektor
Lapas Narkotika Pamekasan Gandeng Puskesmas Teja Pantau Higienitas Makanan Warga Binaan
Ratusan Simpatisan Ponpes Bongkar Indomaret di Pamekasan Pakai Alat Berat
Skema Insentif Baru MBG Berlaku, SPPG Dibayar Rp2 Ribu per Porsi
Seorang Ibu di Pamekasan Lapor Polisi, Diancam Pakai Celurit hingga Rumah Hendak Dibakar
Disdukcapil Pamekasan Belanja Komputer Rp873 Juta, Pelayanan KTP dan KIA Diperkuat di Kecamatan

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:14 WIB

Menyaksikan Kesenian Wayang Kulit Pamekasan: Satu-satunya di Madura, Ajarkan Falsafah Kehidupan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:01 WIB

APBD 2027 Mulai Dibahas, Ketua DPRD Pamekasan Sebut DAK Berpotensi Naik

Kamis, 8 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Lima Tahun Buron, Pelaku Pembacokan Cakades Batubintang Ditangkap di Jember

Kamis, 8 Oktober 2026 - 05:25 WIB

Cegah NAPZA pada Remaja, Dinkes Pamekasan Perkuat Koordinasi Lintas Sektor

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Lapas Narkotika Pamekasan Gandeng Puskesmas Teja Pantau Higienitas Makanan Warga Binaan

Berita Terbaru