Oleh: Abrari Alzael, Budayawan & Jurnalis Senior.
***
DALAM kurun waktu 3 tahun, 1982 hingga 1985, warga republik dihantui cekam. Mayat bergelimpangan, di berbagai penjuru tanah ini. Entah siapa yang mengeksekusi, tetapi dari pola pada jejak yang tertinggal, nyaris sama.
Tubuh tertembak, terbungkus dalam karung dengan tangan kaki terikat. Bau menyengat, suatu aroma tak sedap yang lebih busuk dari makhluk hidup lainnya. Saat itu, kata Petrus begitu popular, horror dan menakutkan.
Di tahun itu, orde baru berkuasa. Kejahatan meningkat dan pemerintah kehilangan cara untuk menangani. Memberantas kejahatan diidentikkan dengan memusnahkan penjahat dengan cara dor.
Tak ada pengadilan, tak ada ampunan, dan kekuasaan begitu absolut ketika itu. Cara ini benar-benar purba, amat fosil dalam tata struktur berpikir. Rakyat, sungguh takut, tetrutama yang memiliki tato sebab merasa terancam, terutama pada saat namanya berada dalam daftar hitam.
Empat puluh satu tahun berlalu. Tetapi duka dan trauma bagi leluhur korban petrus ini, tetap terasa. Negara yang tersusun dari hirarkhi hukum, terdekonstruksi atas nama OPK (Operasi Pemberantasan Kejahatan).
Negara melalui aparatur yang ditugasi, seolah-olah berhak, untuk membunuh, dan membuang mayat sesuka hati para eksekutor, yang diyakini tidak sendiri dalam bertindak. Ada semacam Gerakan TSM (terstruktur, sistematis dan massif) karena jejak dan pola yang sama.
Saat ini, petrus tidak muncul lagi seperti dulu meski aksi ini dinilai sukses dalam mengurangi kejahatan akibat shock teraphy. Tetapi, fatsun persoalannya bukan di sini.
Ada yang dilupakan bahwa kejahatan tidak bisa diberantas. Usia kejahatan, sama panjangnya dengan umur manusia sendiri. Sejauh manusia itu masih ada, maka selama itu pula kejahatan ada sebagaimana kebaikan, terjadi di mana-mana, sampai saat ini.
Ini juga yang terjadi di Gaza dan Tepi Barat. Pejuang Palestina, Yassir Arafat telah berkampanye ke mana-mana, tentang Palestina. Tetapi Israel, tetap saja seperti Jamak diketahui publik. Israel, mulanya, sesuai perjanjian yang dibuat tahun 1949, hanya 20.770 kilo meter persegi.
Lalu, luas ini bertambah setelah aksi pendudukan di Tepi Barat menjadi 27.799 kilo meter persegi. Penambahan luas wilayah ini didapat karena memaksa, menyerang dan membunuh juga termasuk warga sipil, kaum ibu dan anak-anak. Konflik Israel dan Palestina terus hingga kini meski Prabowo membela.
Israel, tentu saja tidak sendiri. Ia punya sekutu yang berdiri di belakangnya. Konflik ini hanya soal tanah, tentang teritori dan tidak kunjung selesai. Hal yang berbeda dari petrus, Israel terang-terangan dan eksekutor petrus sembunyi.
Persamaannya, petrus tidak sendiri, ada kuasa yang berdiri di belakangnya. Satu sisi, kuasa di belakang Israel, di depan publik berpidato, mengutuk zionis Israel dan di sisi yang lain ia menjadi bagian dari eksekutor itu.
Kuasa, kata penjaga warung kopi, kadang-kadang bar-bar dengan alasan yang hampir sama, memiliki syahwat, untuk berkuasa dan mengatur.
Narasi ini ditulis persis ketika Prabowo duduk berdekatan dengan Trump, di Washington DC. Mereka bicara soal Palestina, ngomong soal BoP (Board of Peace), dan pasti berdiskusi tentang sesuatu yang tidak dimengerti, kecuali oleh para pemimpin itu.
Publik pada sesuatu yang sederhana, hanya memahami bahwa Indonesia membayar semacam infaq perdamaian untuk BoP sebesar Rp16,7 Triliun. Ini berarti jika dibebankan kepada seluruh rakyat Indonesia, masyarakat rata-rata menyumbang untuk BoP sebesar Rp. 60.000/jiwa. Apakah setelah Indonesia masuk dalam BoP lalu Palestina damai?
Dalam pengandaian yang sederhana, untuk mendamaikan Palestina, tidakkah harus berguru pada Indonesia? Bukankah negara ini memiliki sejarah membunuh tanpa harus dikenali siapa pembunuhnya, petrus?
Tinggal di-list saja siapa pelaku kejahatan di Tepi Barat dan Gaza, serahkan nama-nama itu kepada Prabowo senyampang bertemu Trump. Sesimpel itu dalam pikiran rakyat kecil yang tak mencalonkan diri sebagai wapres atau presiden, meski ijazah arakyat asli.
Maka, terlepas bahwa Prabowo pernah menjadi menantu Soeharto, setidaknya sebagai jenderal ia pasti berguru kepada Soeharto, sebagai Jenderal Besar saat petrus itu aktif.
Jika penembak misterius yang asli Indonesia di jaman itu, tega membunuh suadaranya sendiri sesama warga bangsa, pasti petrus lebih garang dalam mengeksekusi para kriminal bersenjata di Gaza.
Dalam keyakinan sebagian pihak, serupa itu sebagai mana semangat nasionalisme, Ganyang Malaysia, Inggris kita linggis dan Amerika kita Setrika, begitu kobar dan kepak tangan Sokerno, saat itu.
Soekarno, orde lama, masanya sudah selesai, Soeharto pun, orde baru, telah berakhir. Kini, orde yang lebih baru, era Prabowo. Ia, tegas atau dalam istilah cara membaca al quran, jahr.
Ia juga kadang tampak seperti bacaan dalam kalimat suci itu sendiri, ayat mutasyabihat, unpredictable, dan absurd. Seperti lukisan, ia abstrak, sebagai puisi, ia gelap; mau apa, mau ke mana, bersama siapa, modalnya apa, peluang dan tantangannya bagaimana, dan seterusnya, seperti belum teridentifikasi dengan baik.
Dari mimbar ke mimbar berikutnya, reportoar-hermeunitiknya terkesan mengalami discontinue. Tetapi, harus diakui, ia semangat, menggelegar, terutama saat pidato di dekat sound yang capable dan soray tepuk tangan yang riuh rendah.
Pada saat yang bersamaan, di dekat sound yang juga menggelegar, seorang anak dari Madura, Valen, menyanyi; jangan tunggu lama-lama, menanti lama-lama, nanti diambil orang.
Seperti lagu ini, negara yang terbiarkan berlayar seperti perahu kertas, tergantung angin dalam waktu yang sangat lama, nanti akan diambil orang; asing, asong, atau aseng. (*)














