Oleh: Abrari Alzael, Budayawan dan Jurnalis Senior.
***
PERNAH terlintas untuk bertanya, apa ya kira-kira cita-cita Jokowi, Luhut, bahkan Prabowo? Ketiga nama itu populer. Wajahnya menghiasi media sosial dengan segala peran yang melekat pada mereka. Jokowi, njawani, Luhut mbataki dan Prabowo, tentu saja gemoy.
Ketiga sosok itu bak pemain silat, berakrobat dan t.o.p.b.g.t ; semacam pendekar yang memiliki tendangan seribu bayangan atau jurus bercakar maut.
Ada satu nama lagi, Gibran; kira-kira apa saja yang dia pikirkan? Seandainya ia bukan anak dari orang yang pernah menjadi presiden, apakah memungkinkan baginya untuk jadi wakil presiden? By the way, apapun jawabannya, simpan di dalam hati.
Semacam jaga diri dan hati-hati dalam bernarasi supaya tidak termasuk kepada pihak yang dinilai menyerempet simbol negara. Sebagai warga negara, bertanya, berimajinasi, bahkan bermimpi, tentu saja tidak terhalangi dan tak bisa diadili.
Pada situasi dan jaman yang berbeda, terdapat sosok Nelson Mandela. Dulu, dia pernah dipenjara, di Afrika Selatan. Saat di dalam bui, terdapat sipir yang mengencingi Mandela.
Ketika menjadi Presiden Afrika Selatan 1994 – 1999, Mandela mencari sipir itu. Sontak saja sang sipir takut dan gemetaran. Ia memiliki prasangka buruk dan presiden akan melakukan balas dendam.
Tetapi, yang terjadi sebaliknya, Mandela memaaafkan sipir itu. Mandela, tidak baper dan emosi, tidak melaporkan sipir itu kepada polisi Afrika, meski ia bisa melakukannya karena memiliki kuasa.
Dalam tafsir hermeneutic, sipir melakukan itu karena cita-citanya memang sampai di situ, tidak lebih. Oleh sebab itu, Mandela memaafkan sipir agar cita-citanya di up grade, supaya naik kelas.
Cita-cita, sesemangat Soekarno, digantungkan di langit dan bila harus terjatuh, tibannya tetap berada di antara para bintang. Mandela dan Soekarno mendidik, bukan menghardik walau kuasa menyelempang di badannya.
Namun kuasa di republik ini, lama-lama terasa tampil sebagai hantu, bak monster, menakutkan, serasa belajar penjumlahan dari nge+ri=ngeri. Sedikit-sedikit, lapor dan laporannya sedikit-sedikit, dicicil, di mana-mana.
The freedom af exspresssion teramputasi seperti saat Rendra bersuara di jamannya, membentur meja kekuasaan. Dalam logika-psikologik, cara seseorang yang menghardik, mengancam, dan mengintimidasi dalam menyelesaikan permasalahan, pada saat yang sama sesungguhnya ia sedang menyembunyikan persoalan.
Seperti sedang berada di posisi yang keliru dan karena itu diperlukan cara untuk menutupinya. Persis seperti teori kebohongan, kerap memerlukan kebohongan lain untuk menutupi ketidakbenaran sebelumnya. Selalu begitu.
Tetapi ada yang lupa, bahwa satyam eva jayate, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Penebangan hutan yang sebagian besar ditengarai dilakukan dengan cara yang tidak benar, hingga air mengalir sebagai antitesa.
Para punggawa sibuk, memberi perhatian dan menebar kasih. Bahkan, jujurly, ada yang nagras pada reportoar Menteri yang memanggul sekarung beras. Ia tampil seolah-olah paling care terhadap korban aliran pepohonan yang dihantar air.
Mungkin, diilhami pemimpin negara di era terdahulu, Umar bin Khattab, yang mengendap-endap memikul karung untuk rakyatnya yang tidak punya beras untuk di masak.
Tapi sorry to say, situasinya tidak sama, mungkin niatnya juga tak serupa, dan yang pasti, beda kelas bro. Umar, tidak selebay itu, tidak sebercanda itu!
Dalam hal memberikan kasih dan perhatian, seringkali aksi yang terjadi hanya bersifat sumbu pendek yang menyebabkan Bupati Gresik Gus Yani marah, ketika banjir luapan Bengawan Solo melanda teritorinya beberapa waktu lalu.
Pejabat Pemprov Jatim tergopoh-gopoh membawa mie instan, yang seolah dengan bantuan mie itu lalu masalah selesai.
Barangkali, tidak sesimpel itu gess. Akar persoalan yang terjadi dengan treatment yang diberikan nyaris tidak selalu setarikan nafas.
Korban banjir hanya terhibur sesaat dan bukan itu yang dibutuhkan, melainkan kelestarian alam dan berstarinya lingkungan, supaya tidak banjir.
Gesang, maestro keroncong, menulis lagu Bengawan Solo saat berusia 23 tahun pada tahun 1940. Salah satu bait lagunya, di musim penghujan, airnya mengalir sampai jauh…
Kini, setelah 85 tahun negeri ini merdeka, sejak lagu itu diciptakan, banjirnya tetap mengalir, sampai jauh, sampai jatuh (korban), sampai rapuh rumah dan roboh.
Aceh dan Sumatera hanya contoh, luas banjirnya, setara atau lebih besar dari dua kali Pulau Bali. Tetapi secara nasional, banjir yang mengubur lebih dari seribu jiwa itu, tidak termasuk bencana.
Belajarlah ke China, demikian yang mungkin diingat saat guru melangsungkan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah dasar.
Pengelolaan air di Negeri Tirai Bambu dilakukan secara massif dan terintegrasi. Proyek transfer air selatan-utara (SNWTP) untuk mengatasi kelangkaan di utara.
Luar biasa berteknologi inovatif (desalinasi-atmosferik) dan solusi berbasis alam seperti konsep kota spons, fokus pada efisiensi pertanian, peningkatan kualitas air minum melalui filtrasi dan reklamasi-desalinatif.
Sekali lagi, guru-guru di sekolah sejak dari kecil mengajarkan belajarlah ke negeri China.
Mengapa harus diubah menjadi berhutanglah ke negeri sana? Guru olah raga juga menyemangati, mens sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat atau pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat.
Tetap sehat dan semangat seperti Elpamas (1980) ; Kamu yang sudah tua, apa kabarmu, katanya baru sembuh, katanya sakit, jantung ginjal dan encok, sedikit saraf, hati-hati Pak Tua, istirahatlah, di luar banyak angin…Pak Tua, sudahlah, engkau sudah terlihat lelah.
Sama, seperti di sinetron drakor yang digambarkan Wira Negara (2021), iya aku juga lelah dengan sikapmu selama ini.
Itu juga yang ditulis Afrizal Malna (2003), seperti semangka di dalam kulkas. Tetapi benar kata Arie Noah dalam hampir setiap konser, kalian luar biasa. (*)














