Filosofi Patah Hati

- Jurnalis

Sabtu, 3 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Semakin berlari dari luka, maka rasa sakit akan semakin mengejarmu. Jangan hindari, tapi hadapi, sampai engkau sembuh dari luka itu,”

– Jalaludin Rumi –

***

Oleh: Prengki Wirananda, Pemred Klik Madura.

**

PATAH HATI adalah ruang sunyi yang paling ramai. Ia tidak berdarah, tetapi perihnya menjalar ke seluruh ingatan. Dalam psikologi percintaan, patah hati bukan sekadar reaksi emosional atas kehilangan atau pengkhianatan.

Melainkan, benturan antara harapan dan kenyataan, antara cinta yang kita bangun di kepala dan manusia yang berdiri di hadapan kita apa adanya.

Di titik ini, cinta berubah menjadi cermin. Kita tidak lagi menatap wajah orang lain, tetapi menatap diri sendiri yang retak oleh ekspektasi.

Psikologi menyebutnya sebagai attachment injury. Ketika ikatan emosional yang kita yakini aman ternyata rapuh, sistem afeksi dalam diri berontak. Hormon kebahagiaan runtuh, digantikan hormon stres. Maka dada sesak, tidur terganggu, dan pikiran berputar pada satu pertanyaan yang tampak sederhana, namun mematikan, mengapa aku tidak cukup?

Baca juga :  Satu Fikrah, Satu Harakah: Momentum Meneguhkan Arah Perjuangan NU Sumenep

Namun para sufi tidak berhenti pada pertanyaan itu. Mereka justru membawanya ke lorong yang lebih dalam, lorong makna.

Jalaluddin Rumi menulis dengan nada yang nyaris membelai luka, “Di mana ada kehancuran, di situlah harta karun disembunyikan.” Sakit hati, dalam pandangan Rumi, bukan kehancuran akhir, melainkan celah tempat cahaya masuk. Luka adalah pintu, dan tidak semua orang berani melewatinya.

Dalam teori cinta sebagai proyeksi, Erich Fromm menjelaskan bahwa sering kali kita mencintai bayangan diri sendiri yang kita titipkan pada orang lain.

Maka ketika cinta itu runtuh, yang sesungguhnya jatuh bukan hanya hubungan, melainkan ilusi tentang siapa diri kita di mata orang yang kita cintai. Di sinilah sakit hati menjadi sangat personal. Ia menghantam ego, harga diri, dan makna keberadaan.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ulama sekaligus pengamat jiwa, menyebut cinta yang menyiksa sebagai mahabbah maradhiyyah, cinta yang sakit karena menggantungkan kebahagiaan pada makhluk, bukan pada Sang Pemilik Hati.

Baca juga :  Antara Komitmen dan Setia

Ia menulis, “Hati yang bergantung selain kepada Allah akan selalu diseret oleh kehilangan.” Maka sakit hati adalah tanda. Ada tempat di dalam diri yang keliru menaruh sandaran.

Namun jangan tergesa-gesa membenci sakit hati. Dalam psikologi eksistensial, penderitaan adalah jalan menuju kesadaran. Viktor Frankl menyebutnya sebagai kemampuan menemukan makna melalui luka.

Sakit hati memaksa manusia berhenti, menepi, dan bertanya ulang, apa makna cinta bagi hidupku? Apakah aku mencintai untuk memiliki, atau untuk bertumbuh?

Rumi kembali berbisik dari kejauhan, “Mengapa engkau tetap tinggal di penjara, padahal pintunya terbuka?” Barangkali sakit hati adalah penjara yang kita rawat sendiri. Kita menyiram ingatan, memelihara luka, dan menolak sembuh karena tanpa luka itu kita tidak lagi tahu siapa diri kita.

Padahal Al-Ghazali telah lama mengingatkan, hati yang sehat bukan hati yang tak pernah terluka, melainkan hati yang mampu kembali utuh setelah patah. Dalam Ihya Ulumuddin, ia menulis bahwa kebersihan hati justru diuji ketika cinta dunia mencederainya.

Baca juga :  [CERPEN] You Can Call Me, Saaa…

Di titik inilah sakit hati berubah fungsi. Ia bukan lagi hukuman, melainkan guru. Ia mengajarkan batas antara mencinta dan melebur, antara setia dan kehilangan diri. Ia mendewasakan jiwa, mengikis ketergantungan, dan memurnikan niat.

Dalam psikologi modern, fase ini disebut post-traumatic growth, pertumbuhan setelah luka. Dalam bahasa spiritual, ia adalah hijrah batin.

Maka jika hari ini hatimu sakit, jangan buru-buru menambalnya dengan pelarian. Dengarkan denyutnya. Ada pesan yang sedang disampaikan.

Bisa jadi Tuhan sedang menarikmu perlahan dari cinta yang sempit menuju cinta yang lebih luas, cinta yang tidak meminta, tidak menuntut, dan tidak melukai diri sendiri.

Sebab seperti kata Rumi, “Luka adalah tempat cahaya memasuki dirimu.” Dan barangkali, dari semua cara Tuhan menyelamatkan manusia, sakit hati adalah cara yang paling halus, namun paling jujur. Maaf. (*)

Berita Terkait

Kongres AJP: Habis Gaduh Terbitlah Teduh
Valen dan Pertaruhan Harga Diri
Menghidupkan Kembali Asa UNU Madura
Satu Fikrah, Satu Harakah: Momentum Meneguhkan Arah Perjuangan NU Sumenep
Ketika Kades Tak Lagi PERKASA
Madura Surganya Energi Baru Terbarukan
Saatnya Madura Menatap Energi Baru
Saatnya Kangean Pulih dari Luka Eksploitasi

Berita Terkait

Sabtu, 3 Januari 2026 - 04:22 WIB

Filosofi Patah Hati

Sabtu, 20 Desember 2025 - 13:22 WIB

Kongres AJP: Habis Gaduh Terbitlah Teduh

Kamis, 18 Desember 2025 - 02:29 WIB

Valen dan Pertaruhan Harga Diri

Jumat, 12 Desember 2025 - 13:27 WIB

Menghidupkan Kembali Asa UNU Madura

Rabu, 26 November 2025 - 03:51 WIB

Satu Fikrah, Satu Harakah: Momentum Meneguhkan Arah Perjuangan NU Sumenep

Berita Terbaru

Catatan Pena

Filosofi Patah Hati

Sabtu, 3 Jan 2026 - 04:22 WIB

Opini

Valen, Media, dan Atribusi

Jumat, 2 Jan 2026 - 01:22 WIB

Opini

Madura dan Nyala Api yang Tak Pernah Padam

Rabu, 31 Des 2025 - 15:16 WIB